[Medan | 20 April 2026] Volatilitas pasar global kembali meningkat setelah Selat Hormuz dilaporkan kembali ditutup. Kondisi ini langsung mendorong lonjakan harga minyak dan memicu pergeseran sentimen pasar ke arah risk-off.
Berdasarkan data Reuters, pada awal perdagangan Asia:
- Minyak Brent naik sekitar 7% ke US$96,85 per barel
- Futures indeks S&P 500 turun sekitar 0,9%
- Dolar AS menguat, sementara euro dan yen melemah
Penutupan Hormuz Picu Lonjakan Harga Energi
Penutupan jalur strategis ini kembali mengganggu distribusi energi global. Sebagai jalur utama bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia, setiap gangguan di Selat Hormuz langsung tercermin pada harga energi.
Kenaikan harga minyak kali ini juga dipicu oleh:
- Penolakan Iran untuk melanjutkan negosiasi dengan Amerika Serikat
- Eskalasi militer, termasuk penyitaan kapal kargo Iran oleh AS
- Ancaman lanjutan dari Presiden Donald Trump terhadap infrastruktur Iran
Pasar Berbalik Arah Setelah Euforia Sementara
Sebelumnya, pasar sempat reli pada Jumat lalu setelah Iran membuka kembali Selat Hormuz, memicu optimisme bahwa konflik akan segera mereda.
Namun, penutupan kembali hanya dalam waktu sekitar 12 jam membalikkan sentimen tersebut. Reli saham dan obligasi pun berisiko terkoreksi, seiring pasar mulai menilai bahwa optimisme sebelumnya terlalu prematur.
Dolar Menguat, Aset Risiko Tertekan
Penguatan dolar AS terjadi setelah sempat melemah dalam beberapa sesi sebelumnya. Pergeseran ini mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian.
Di sisi lain:
- Saham global cenderung melemah
- Obligasi berpotensi kembali mengalami tekanan (yield naik)
- Mata uang non-dolar terdepresiasi
Implikasi: Volatilitas Tinggi Masih Berlanjut
Kondisi ini menegaskan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik. Selama konflik belum menunjukkan de-eskalasi yang nyata, volatilitas diperkirakan tetap tinggi.
Bagi pasar Indonesia, tekanan ini berpotensi:
- Menahan penguatan IHSG
- Menekan rupiah
- Mendorong kenaikan yield obligasi
Terutama di tengah penantian arah kebijakan Bank Indonesia dalam RDG pekan ini.

