[Medan | 27 April 2026] Harga minyak mentah dunia kembali mengalami kenaikan pada awal pekan. Pada Senin (27/4) pukul 07.20 WIB, kontrak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni 2026 diperdagangkan di level US$96,29 per barel di New York Mercantile Exchange, menguat sekitar 2% dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya di US$94,40 per barel.
Penguatan ini dipicu oleh terhentinya kelanjutan negosiasi terkait konflik Iran–AS, di tengah masih tertutupnya jalur distribusi utama di Selat Hormuz. Keputusan Presiden AS Donald Trump yang membatalkan pengiriman delegasi ke Pakistan semakin mempertegas kebuntuan diplomasi, sementara Iran menegaskan tidak akan terlibat dalam perundingan selama tekanan masih berlangsung.
Meski wacana gencatan senjata telah muncul sejak awal April, blokade yang dilakukan kedua pihak di Selat Hormuz masih menghambat arus pengiriman energi global. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak mentah, gas alam, hingga pupuk, yang pada akhirnya berpotensi mendorong tekanan inflasi secara global.
Sejumlah analis menilai situasi saat ini mencerminkan fase kebuntuan, di mana konflik tidak berkembang menjadi eskalasi terbuka, namun juga belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian. Dalam kondisi tersebut, risiko terhadap pasokan energi tetap tinggi.
Bahkan, lembaga energi global menilai konflik ini telah memicu gangguan pasokan yang signifikan dalam skala besar. Dengan belum adanya kepastian arah negosiasi, harga minyak diperkirakan akan tetap bertahan di level tinggi, dengan kecenderungan mengarah kembali ke atas US$100 per barel apabila gangguan distribusi terus berlanjut.

