IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Rupiah Sudah Tembus Rp 18.000, BI Tingkatkan Intervensi

By Aurelia Tanu 3 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ kompas.tv
SHARE

[Medan | 5 Juni 2026] Bank Indonesia (BI) meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing setelah rupiah kembali mencetak rekor terendah baru dan menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya tekanan eksternal global dan tingginya kebutuhan valuta asing domestik.

Contents
BI Tingkatkan Intervensi di Berbagai InstrumenKonflik Timur Tengah dan Permintaan Dolar Domestik Jadi PemicuTekanan terhadap Rupiah Persempit Ruang Kebijakan BIPasar Masih Dibayangi Sentimen Risk-Off

 

Rupiah Cetak Rekor Terendah Baru

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 11.53 WIB pada Kamis (4/6/2026), rupiah di pasar spot berada di level Rp18.044 per dolar AS atau melemah sekitar 0,43% dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pelemahan ini memperpanjang tren depresiasi rupiah dalam beberapa pekan terakhir dan memperlihatkan semakin kuatnya tekanan terhadap mata uang emerging markets di tengah kombinasi sentimen global dan domestik yang kurang kondusif. Level Rp18.000 per dolar AS sendiri menjadi titik psikologis penting bagi pasar karena mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap stabilitas eksternal Indonesia.

BI Tingkatkan Intervensi di Berbagai Instrumen

Wakil Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan bank sentral akan meningkatkan intervensi dengan intensitas yang lebih tinggi dan dilakukan secara konsisten di berbagai segmen pasar valuta asing.

Menurut Destry, intervensi dilakukan melalui pasar offshore, domestic non-deliverable forward (DNDF), serta pasar spot guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan meredam volatilitas yang berlebihan. Langkah ini menunjukkan BI mulai memperkuat respons stabilisasi setelah tekanan terhadap rupiah semakin meningkat dalam beberapa hari terakhir.

Konflik Timur Tengah dan Permintaan Dolar Domestik Jadi Pemicu

Bank Indonesia menilai tekanan terhadap rupiah dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak dan memperkuat permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS. Sementara dari sisi domestik, tingginya kebutuhan pembayaran dividen perusahaan serta kewajiban utang luar negeri turut meningkatkan permintaan dolar di pasar domestik.

Kondisi tersebut terjadi di tengah meningkatnya arus keluar modal asing dari pasar emerging markets akibat ekspektasi suku bunga tinggi AS yang bertahan lebih lama atau higher for longer.

Tekanan terhadap Rupiah Persempit Ruang Kebijakan BI

Pelemahan rupiah hingga menembus level Rp18.000 diperkirakan akan semakin mempersempit ruang kebijakan moneter Bank Indonesia ke depan. Di satu sisi, BI perlu menjaga stabilitas nilai tukar dan kepercayaan investor asing terhadap aset domestik. Namun di sisi lain, pengetatan kebijakan yang terlalu agresif berisiko memperbesar tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi domestik yang mulai melambat.

Pasar saat ini juga mencermati apakah BI akan mengambil langkah lanjutan melalui kenaikan suku bunga acuan atau memperkuat instrumen stabilisasi likuiditas pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) mendatang.

Pasar Masih Dibayangi Sentimen Risk-Off

Tekanan terhadap rupiah terjadi bersamaan dengan pelemahan pasar saham dan meningkatnya aksi jual investor asing di pasar domestik. Sentimen risk-off global masih mendominasi pergerakan pasar seiring ketidakpastian geopolitik, kenaikan harga energi, dan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global.

Selain faktor eksternal, pasar juga masih mencermati berbagai isu domestik seperti penyempitan surplus perdagangan, ketidakpastian kebijakan ekspor melalui DSI, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap kredibilitas kebijakan fiskal dan kelembagaan.

Dalam jangka pendek, stabilisasi rupiah diperkirakan masih sangat bergantung pada efektivitas intervensi BI, arah kebijakan The Fed, perkembangan konflik Timur Tengah, serta kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional.

 

 

You Might Also Like

AS Siapkan Sanksi Untuk Presiden Kuba

Harga Minyak Dunia Stabil Usai Optimisme Negosiasi AS-Iran

Istana Bantah Prabowo Bakal Reshuffle dan Ganti Menkeu Purbaya

DPR AS Voting Untuk Batasi Wewenang Trump Terhadap Iran

Importir China Dikabarkan Tunda Pembelian Batubara Imbas Kebijakan Satu Pintu DSI

TAGGED: kurs Rupiah, nilai tukar Rupiah, Rupiah, rupiah tembus 18.000
Aurelia Tanu June 5, 2026 June 5, 2026
Previous Article Istana Bantah Prabowo Bakal Reshuffle dan Ganti Menkeu Purbaya
Next Article Harga Minyak Dunia Stabil Usai Optimisme Negosiasi AS-Iran
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Komplek CitraLand Gama City, Madison Avenue, Blok R6 No. 90, Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?