[Medan | 20 April 2026] Bank sentral Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2026, seiring meningkatnya tekanan eksternal dan masih tingginya risiko inflasi domestik.
Rekomendasi tersebut disampaikan oleh LPEM FEB UI yang menilai ruang pelonggaran moneter saat ini masih sangat terbatas.
Inflasi dan Energi Masih Jadi Risiko
LPEM menilai inflasi masih berada di atas target dan berpotensi kembali meningkat. Berakhirnya efek diskon tarif listrik, lonjakan permintaan selama Ramadan dan Idul Fitri, serta kenaikan harga energi global menjadi faktor utama yang menahan penurunan inflasi.
Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik juga menjadi risiko tambahan yang dapat mendorong inflasi berbasis biaya dalam beberapa bulan ke depan.
Tekanan Rupiah Kian Besar
Di sisi eksternal, nilai tukar rupiah berada dalam tekanan akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu volatilitas global, termasuk gangguan di Selat Hormuz.
Pelemahan rupiah tidak hanya dipicu faktor global, tetapi juga mencerminkan kerentanan domestik. Dalam kondisi ini, penurunan suku bunga justru berisiko memperparah tekanan terhadap mata uang.
Risiko Jika BI Menurunkan Suku Bunga
LPEM menggarisbawahi tiga risiko utama apabila suku bunga diturunkan dalam waktu dekat:
- Penyempitan selisih suku bunga dengan global (interest rate differential)
- Tekanan lanjutan terhadap rupiah
- Potensi kenaikan inflasi akibat mahalnya impor dan energi
Dengan kombinasi tersebut, kebijakan menahan suku bunga dinilai sebagai langkah paling rasional dalam jangka pendek.
Kepercayaan Pasar Masih Rapuh
Selain faktor makro, sentimen pasar keuangan domestik juga masih dibayangi ketidakpastian. Sejumlah lembaga pemeringkat global seperti Moody’s dan Fitch Ratings telah menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif. Sinyal tersebut diperkuat oleh dinamika di indeks global seperti MSCI yang memicu perubahan alokasi investor asing.
Tekanan Fiskal dan Harga Minyak
Lonjakan harga minyak hingga mendekati US$100 per barel juga menimbulkan kekhawatiran terhadap ketahanan fiskal. Angka ini jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar US$70 per barel.
Perbedaan pandangan antara pemerintah terkait proyeksi defisit turut menambah ketidakpastian, sehingga memengaruhi persepsi investor terhadap kredibilitas kebijakan fiskal.
Kesimpulan: BI Cenderung Wait and See
Dengan kombinasi tekanan inflasi, pelemahan rupiah, serta ketidakpastian global dan domestik, Bank Indonesia diperkirakan akan mengambil sikap wait and see dengan mempertahankan suku bunga.
Langkah ini bertujuan menjaga stabilitas makro, khususnya nilai tukar dan ekspektasi inflasi, meskipun harus mengorbankan ruang stimulus bagi pertumbuhan dalam jangka pendek.

