[Medan | 22 April 2026] Nominasi Ketua The Fed, Kevin Warsh, menyampaikan sejumlah gagasan besar dalam sidang konfirmasi di Senat yang berpotensi mengubah arah kebijakan Federal Reserve. Warsh menilai kebijakan moneter beberapa tahun terakhir gagal menjaga stabilitas, bahkan berkontribusi pada lonjakan inflasi dan penurunan kredibilitas bank sentral. Ia mendorong “perubahan rezim” sebagai respons atas kesalahan kebijakan tersebut.
Arah Suku Bunga Lebih Rendah
Warsh mengindikasikan preferensi pada suku bunga yang lebih rendah ke depan. Menurutnya, pelonggaran moneter tetap bisa dilakukan tanpa memicu inflasi, selama didukung oleh penyesuaian di sisi lain, khususnya pengelolaan neraca bank sentral.
Neraca The Fed Akan Dipangkas
Salah satu poin utama adalah rencana pengurangan neraca The Fed yang dinilai terlalu besar pasca berbagai krisis. Dengan neraca yang lebih ramping, Warsh percaya ruang untuk menjaga suku bunga tetap rendah akan lebih besar tanpa menciptakan tekanan inflasi tambahan.
Pandangan Baru terhadap Inflasi
Warsh memiliki pendekatan berbeda terhadap inflasi. Ia menilai inflasi tidak hanya dipicu faktor eksternal seperti pandemi atau perang, tetapi juga akibat ekspansi fiskal dan moneter yang berlebihan. Menariknya, ia juga melihat perkembangan teknologi seperti AI sebagai faktor deflasi struktural dalam jangka panjang.
Perkuat Koordinasi & Fokus Mandat
Warsh ingin Federal Reserve kembali fokus pada mandat utamanya, stabilitas harga dan lapangan kerja, serta mengurangi keterlibatan dalam isu di luar itu. Ia juga mendorong koordinasi yang lebih jelas dengan Departemen Keuangan AS, terutama terkait pengelolaan neraca dan penerbitan utang pemerintah.
Reformasi Komunikasi The Fed
Warsh mengkritik banyaknya pernyataan pejabat The Fed yang justru membingungkan pasar. Warsh menginginkan komunikasi yang lebih sederhana, konsisten, dan terarah untuk meningkatkan efektivitas kebijakan.
Dampak ke Market
Kebijakan Warsh berpotensi menciptakan fase bullish jangka pendek (karena ekspektasi rate cut) namun dengan risiko volatilitas meningkat ke depan akibat pengetatan likuiditas. Untuk Indonesia, ini berarti potensi inflow jangka pendek ke obligasi dan saham, tetapi tidak sustain karena tekanan likuiditas global masih membayangi.
Image source: AP/ scotsmanguide.com

