[Medan | 24 April 2026] Inflasi inti di Jepang naik menjadi 1,8% pada Maret 2026, dari sebelumnya 1,6%, menandai kenaikan pertama dalam lima bulan terakhir. Kenaikan ini terutama dipicu lonjakan harga energi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya perang yang melibatkan Iran. Inflasi utama juga ikut naik ke 1,5% dari 1,3% bulan sebelumnya.
Tekanan Energi dan Yen Lemah Dorong Harga Naik
Kenaikan inflasi juga dipengaruhi harga minyak global yang melonjak serta pelemahan yen yang meningkatkan biaya impor. Inflasi inti yang tidak termasuk energi dan pangan bahkan masih berada di 2,4%, di atas target 2% Bank of Japan, menandakan tekanan harga yang mulai lebih merata di ekonomi domestik.
Pemerintah Lakukan Intervensi Harga Energi
Pemerintah Jepang di bawah Perdana Menteri Sanae Takaichi merespons dengan subsidi bahan bakar dan pelepasan cadangan minyak untuk menahan kenaikan harga. Harga bensin dipatok di sekitar 170 yen per liter, namun kebijakan ini membebani fiskal dengan biaya subsidi mencapai ratusan miliar yen per bulan.
BoJ di Persimpangan: Tahan atau Naikkan Suku Bunga
Bank sentral Bank of Japan diperkirakan masih akan menahan suku bunga di 0,75% pada pertemuan terdekat, namun tekanan untuk menaikkan suku bunga semakin kuat. Pasar swap bahkan mulai memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Juni mencapai lebih dari 60%, seiring ekspektasi inflasi yang tetap tinggi.
Dampak ke Market: Yen Tertekan, Ekspektasi Rate Hike Menguat
Kombinasi inflasi yang naik, harga energi tinggi, dan pelemahan yen membuat ekspektasi kebijakan BoJ semakin hawkish. Implikasinya, yen berpotensi tetap lemah dalam jangka pendek, sementara obligasi Jepang bisa mengalami tekanan akibat naiknya ekspektasi suku bunga. Di sisi global, kondisi ini turut menambah tekanan inflasi impor dan menjaga sentimen risk-off di pasar keuangan Asia.

