[Medan | 30 April 2026] Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) melonjak tajam setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya pada Rabu, 29 April 2026 waktu setempat.
Yield tenor 10 tahun naik ke sekitar 4,42%, sementara yield tenor 2 tahun, yang lebih sensitif terhadap kebijakan moneter, melonjak sekitar 11 basis poin ke 3,95%, mencatat kenaikan terbesar sejak 2022 untuk hari pengumuman The Fed.
Nada Hawkish Perkuat Tekanan di Pasar Obligasi
Meski suku bunga ditahan, keputusan Federal Reserve disertai sinyal hawkish, tercermin dari perbedaan pandangan (dissent) di antara pejabat bank sentral. Sejumlah anggota menolak adanya indikasi pelonggaran ke depan, bahkan ada yang mendorong penurunan suku bunga.
Perpecahan ini memperkuat persepsi pasar bahwa jalur kebijakan ke depan masih condong ketat, dengan probabilitas kenaikan suku bunga kembali mulai diperhitungkan oleh pelaku pasar.
Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi
Di sisi lain, kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah dan gangguan di Selat Hormuz turut memperburuk sentimen pasar obligasi. Lonjakan harga energi meningkatkan ekspektasi inflasi, sehingga menekan harga obligasi dan mendorong yield naik.
Kondisi ini membuat investor menunda ekspektasi pemangkasan suku bunga yang sebelumnya cukup agresif.
Yield Jangka Panjang Sentuh Level Psikologis
Yield obligasi tenor 30 tahun bahkan sempat menyentuh 5%, level yang dianggap sebagai ambang psikologis penting di pasar. Dalam beberapa tahun terakhir, level ini jarang bertahan lama, namun jika mampu bertahan, berpotensi menandai rezim suku bunga tinggi yang lebih panjang.
Dolar AS Menguat, Likuiditas Global Tertekan
Sejalan dengan kenaikan yield, dolar AS turut menguat. Lingkungan suku bunga tinggi di AS meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar, sehingga mendorong arus modal masuk ke pasar AS dan menekan likuiditas global, terutama di emerging markets.
Ekspektasi Kebijakan: Cut Ditunda, Risiko Hike Muncul
Pasar kini memperkirakan Federal Reserve akan menahan suku bunga lebih lama sepanjang 2026, dengan peluang kenaikan suku bunga kembali mulai muncul pada 2027.
Sebelumnya, pasar sempat mengantisipasi lebih dari dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini, namun ekspektasi tersebut kini berbalik menjadi lebih netral hingga hawkish.
Kombinasi Minyak Tinggi & The Fed Hawkish Tekan Obligasi
Kombinasi antara lonjakan harga minyak dan sikap hawkish Federal Reserve menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan yield US Treasury. Lingkungan ini menciptakan tekanan bagi pasar obligasi global, sekaligus meningkatkan volatilitas di pasar keuangan.

