[Medan | 23 April 2026] Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (22/4/2026), seiring meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran dalam perebutan kendali Selat Hormuz. Minyak Brent ditutup mendekati US$102 per barel, sementara WTI bertahan di kisaran US$93 setelah mencatat kenaikan lebih dari 10% dalam tiga sesi terakhir.
Gencatan Senjata Diperpanjang, Tapi Konflik Belum Reda
Trump memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu, namun langkah ini tidak diikuti de-eskalasi nyata di lapangan. Iran tetap menolak kembali ke meja perundingan dalam waktu dekat, sementara blokade laut oleh AS masih berlanjut. Kondisi ini menciptakan situasi “no war, no peace” yang justru memperpanjang ketidakpastian pasar.
Gangguan Pasokan Global Semakin Nyata
Penutupan hampir total Selat Hormuz, jalur vital yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia, telah mengganggu distribusi energi global secara signifikan. Pasar kini sangat bergantung pada suplai dari AS untuk menutup kekurangan pasokan dari Timur Tengah, yang tercermin dari lonjakan ekspor energi AS ke level tertinggi.
Dampak ke Market: Inflasi Naik, Risk Asset Tertahan
Kenaikan harga minyak di atas US$100 memperbesar tekanan inflasi global dan berpotensi menahan ruang penurunan suku bunga bank sentral. Bagi pasar keuangan, kondisi ini menjadi negatif karena: (1) meningkatkan ekspektasi suku bunga tetap tinggi lebih lama, (2) menekan margin korporasi akibat biaya energi, dan (3) mengurangi risk appetite investor.
Untuk Indonesia, implikasinya lebih berat: tekanan pada rupiah berpotensi berlanjut, yield obligasi cenderung naik, dan IHSG menghadapi kombinasi sentimen negatif dari sisi inflasi serta capital outflow. Dengan demikian, meskipun global sempat risk-on, lonjakan minyak ini berpotensi membalikkan sentimen menjadi lebih defensif dalam jangka pendek.

