[Medan | 7 Mei 2026] Harga minyak dunia kembali melemah tajam pada perdagangan Rabu (6/5/2026) setelah pasar merespons positif munculnya proposal damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Optimisme bahwa konflik Timur Tengah mulai menuju deeskalasi mendorong pelaku pasar melepas premi risiko geopolitik yang selama ini menopang lonjakan harga energi.
Berdasarkan data Reuters, harga minyak Brent ditutup turun US$8,60 atau 7,83% menjadi US$101,27 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merosot US$7,19 atau 7,03% ke level US$95,08 per barel. Bahkan, Brent sempat menyentuh level di bawah US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 22 April sebelum akhirnya memangkas sebagian pelemahan.
Proposal Damai AS-Iran Redakan Kekhawatiran Pasar
Penurunan harga minyak terjadi setelah muncul laporan bahwa Washington dan Teheran semakin dekat menuju kesepakatan awal berupa memorandum of understanding (MoU) satu halaman yang dimediasi Pakistan. Proposal tersebut disebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap serta pelonggaran blokade AS terhadap pelabuhan Iran.
Pemerintah Iran mengonfirmasi tengah mempelajari proposal terbaru dari AS dan disebut akan memberikan respons resmi dalam waktu dekat melalui mediator Pakistan. Axios melaporkan respons Iran diperkirakan diterima AS dalam 48 jam ke depan, yang dinilai menjadi posisi terdekat kedua negara menuju kesepakatan sejak perang dimulai pada Februari lalu.
Analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, mengatakan pasar mulai melihat peluang pembukaan kembali Selat Hormuz semakin besar, terlepas dari apakah nantinya tercapai perjanjian damai permanen atau tidak.
Meski demikian, Presiden Donald Trump menegaskan masih terlalu dini untuk membahas pertemuan langsung dengan Iran. Pernyataan tersebut sempat menahan pelemahan harga minyak di akhir perdagangan.
Selat Hormuz Jadi Faktor Utama Pergerakan Harga
Pasar energi global masih sangat sensitif terhadap perkembangan di Selat Hormuz mengingat jalur tersebut mengalirkan hampir 20% perdagangan minyak dunia. Konflik yang pecah sejak akhir Februari menyebabkan gangguan besar terhadap arus pengiriman minyak global dan mendorong harga Brent sempat melonjak ke level tertinggi sejak 2022.
Kepala analis minyak Rystad Energy, Paola Rodriguez-Masiu, menilai bahkan potensi tercapainya kesepakatan saja sudah cukup untuk menekan harga minyak secara signifikan. Namun, normalisasi pasokan global diperkirakan tidak akan berlangsung cepat meskipun Hormuz kembali dibuka.
Menurutnya, pasar membutuhkan waktu sekitar enam hingga delapan minggu hingga arus distribusi minyak benar-benar kembali normal karena adanya hambatan struktural pada sektor logistik dan pengiriman.
Persediaan Minyak AS Masih Turun
Di tengah sentimen damai, data persediaan minyak AS masih menunjukkan kondisi pasokan yang relatif ketat. Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan stok minyak mentah turun 2,3 juta barel menjadi 457,2 juta barel pada pekan lalu.
Penurunan ini memang lebih kecil dibanding estimasi analis Reuters sebesar 3,3 juta barel, namun tetap menunjukkan gangguan pasokan global belum sepenuhnya pulih.
Dampak terhadap Indonesia
Penurunan harga minyak dunia berpotensi menjadi sentimen positif bagi perekonomian Indonesia, terutama dari sisi inflasi dan fiskal. Harga Brent yang kembali mendekati US$100 per barel dapat mengurangi tekanan terhadap Indonesian Crude Price (ICP) yang menjadi acuan asumsi harga minyak dalam APBN.
Jika tren pelemahan berlanjut, tekanan subsidi dan kompensasi energi pemerintah juga berpotensi mereda sehingga risiko pelebaran defisit anggaran dapat lebih terkendali. Selain itu, biaya impor BBM dan minyak mentah dapat turun, yang berpotensi membantu stabilitas nilai tukar rupiah dan neraca perdagangan migas.
Dari sisi inflasi, pelemahan harga minyak berpotensi menahan kenaikan harga energi dan transportasi domestik sehingga menjaga daya beli masyarakat tetap stabil.

