[Medan | 7 Mei 2026] Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan bahwa operasi militer Epic Fury terhadap Iran telah resmi berakhir. Pengumuman tersebut disampaikan di Gedung Putih pada Selasa (5/5/2026), menyusul laporan pemerintah kepada Kongres terkait status konflik yang dimulai sejak serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.
Rubio menegaskan bahwa tahap ofensif telah selesai sesuai arahan Presiden Donald Trump. Pernyataan ini memperkuat sinyal bahwa Washington mulai menggeser fokus dari operasi militer terbuka menuju pendekatan diplomasi dan pengamanan kawasan.
Gencatan Senjata Masih Rapuh
Meski operasi ofensif dihentikan, kondisi di lapangan masih belum sepenuhnya stabil. Gencatan senjata yang diumumkan Trump pada 8 April memang terus diperpanjang, namun negosiasi antara Washington dan Teheran dilaporkan masih berjalan alot. Pemerintah Iran sendiri sebelumnya juga sempat membantah adanya kesepakatan damai permanen dengan AS.
Gedung Putih menilai penghentian status perang juga penting secara hukum domestik, terutama untuk menghindari ketentuan dalam War Powers Act 1973 yang mewajibkan Presiden meminta persetujuan Kongres apabila konflik berlangsung lebih dari 60 hari.
AS Beralih ke Mode Defensif
Rubio menegaskan bahwa meskipun operasi ofensif dihentikan, AS tetap mempertahankan operasi defensif di kawasan, termasuk melalui Project Freedom untuk membantu kapal komersial melintasi Selat Hormuz. Menurutnya, operasi tersebut bertujuan menjaga jalur perdagangan global tanpa melakukan serangan lebih dulu.
Pemerintah AS juga menyebut tekanan ekonomi terhadap Iran mulai menunjukkan dampak signifikan terhadap kondisi domestik negara tersebut. Namun demikian, Trump disebut masih memprioritaskan penyelesaian konflik melalui jalur negosiasi dibanding eskalasi militer lanjutan.
Dampak Pasar
Pengumuman berakhirnya operasi Epic Fury menjadi sinyal positif bagi pasar global karena menurunkan risiko eskalasi militer langsung antara AS dan Iran. Pasar mulai melihat adanya peluang deeskalasi konflik, sehingga premi risiko geopolitik pada harga minyak berpotensi berkurang dalam jangka pendek. Hal ini terlihat dari mulai terkoreksinya harga minyak setelah sebelumnya melonjak tajam akibat ancaman gangguan distribusi energi global.
Meski demikian, pasar masih cenderung berhati-hati karena gencatan senjata dinilai belum sepenuhnya solid. Ketidakjelasan terkait pembukaan penuh Selat Hormuz serta potensi insiden baru di kawasan Teluk membuat volatilitas energi diperkirakan tetap tinggi. Dengan sekitar 20% perdagangan minyak dunia melewati jalur tersebut, setiap gangguan kecil tetap dapat memicu lonjakan harga komoditas dan inflasi global.
Bagi pasar keuangan, meredanya tensi perang berpotensi mendorong perbaikan sentimen risk appetite investor. Yield obligasi AS berpeluang stabil apabila tekanan inflasi energi mulai mereda, sementara pasar saham global dapat memperoleh sentimen positif. Namun, selama negosiasi AS–Iran belum menghasilkan kesepakatan permanen, investor diperkirakan masih akan mempertahankan posisi defensif pada aset safe haven seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS.

