[Medan | 18 Mei 2026] Nilai tukar rupiah sempat menembus level Rp17.600 per dolar AS pada perdagangan Jumat (15/5/2026), mencerminkan tekanan yang semakin besar terhadap stabilitas eksternal Indonesia. Pelemahan ini dipicu kombinasi faktor global dan domestik, mulai dari lonjakan harga minyak dunia, menguatnya dolar AS, hingga tingginya kebutuhan impor energi.
Menurut data Bloomberg, rupiah sempat menyentuh Rp17.613 per dolar AS di pasar offshore sebelum menguat tipis ke Rp17.599 per dolar AS pada perdagangan siang.
Apa Penyebab Rupiah Melemah?
Tekanan utama berasal dari kenaikan harga minyak dunia yang kini berada di atas US$110 per barel. Sebagai negara net importir minyak, Indonesia membutuhkan lebih banyak dolar AS untuk membiayai impor crude oil dan BBM. Kenaikan harga energi otomatis meningkatkan permintaan dolar di pasar domestik.
Di sisi global, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun mendekati 4,5%, sementara inflasi AS yang kembali naik ke 3,8% membuat pasar mulai memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini memperkuat indeks dolar AS dan menekan mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
Dari sisi domestik, tekanan juga datang dari musim repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, dan kebutuhan korporasi untuk melakukan lindung nilai.
Bagaimana Keputusan BI pada Mei 2026?
Pada Rapat Dewan Gubernur bulan Mei 2026, Bank Indonesia diperkirakan masih mempertahankan BI-Rate di level 5,75%.
Keputusan untuk menahan suku bunga didasarkan pada beberapa pertimbangan. Pertama, BI masih mengandalkan intervensi agresif di pasar valas dan pasar obligasi untuk menjaga stabilitas rupiah. Kedua, pertumbuhan ekonomi domestik masih membutuhkan dukungan kebijakan moneter yang tidak terlalu ketat. Ketiga, BI cenderung menunggu perkembangan kondisi global dan efektivitas langkah stabilisasi yang telah ditempuh.
Dengan demikian, meskipun rupiah sudah mendekati Rp17.600 per dolar AS, BI pada Mei kemungkinan memilih untuk tetap menahan suku bunga sambil memantau tekanan eksternal.
Apakah BI Akan Naikkan Suku Bunga pada Juni?
Peluang kenaikan BI-Rate pada Juni meningkat cukup signifikan apabila tekanan terhadap rupiah tidak mereda.
Jika rupiah terus bergerak menuju Rp17.700–Rp18.000 per dolar AS dan harga minyak bertahan di atas US$110 per barel, BI dapat mempertimbangkan kenaikan suku bunga sebesar 25–50 basis poin untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan ekspektasi inflasi.
Kenaikan suku bunga bertujuan untuk meningkatkan daya tarik aset rupiah, menahan arus keluar modal, dan mengurangi tekanan depresiasi.
Faktor yang Akan Menentukan Keputusan BI
Keputusan BI sangat bergantung pada empat faktor utama. Pertama, arah pergerakan rupiah. Kedua, perkembangan harga minyak global. Ketiga, kebijakan The Fed. Keempat, stabilitas inflasi domestik.
Selama inflasi Indonesia masih terkendali dan intervensi pasar terbukti efektif, BI dapat menunda kenaikan suku bunga. Namun jika pelemahan rupiah semakin tajam dan risiko inflasi meningkat, pengetatan moneter menjadi semakin mungkin.
Probabilitas Skenario Kebijakan BI
Saat ini, skenario yang paling mungkin adalah BI mempertahankan suku bunga pada Mei dan baru mempertimbangkan kenaikan pada Juni jika tekanan eksternal tetap tinggi.
Secara probabilitas, kemungkinan BI menahan suku bunga pada Mei sangat besar. Untuk Juni, peluang kenaikan 25 bps cukup terbuka apabila rupiah tetap berada di atas Rp17.500 per dolar AS. Kenaikan 50 bps hanya akan terjadi apabila terjadi tekanan ekstrem, misalnya rupiah mendekati Rp18.000 per dolar AS dan harga minyak terus melonjak.

