[Medan | 13 Mei 2026] Harga minyak dunia kembali menguat setelah prospek tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran semakin mengecil. Konflik yang telah berlangsung selama 10 minggu membuat gangguan pasokan energi global terus berlanjut dan menjaga harga minyak tetap berada di level tinggi.
Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$102 per barel setelah melonjak lebih dari 4% pada sesi sebelumnya. Sementara itu, Brent Crude ditutup di atas US$107 per barel, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi krisis energi yang lebih panjang.
Ekspor Minyak Iran Dilaporkan Terhenti
Data citra satelit menunjukkan tidak ada kapal tanker besar yang beroperasi di Pulau Kharg, terminal ekspor minyak utama Iran, selama beberapa hari terakhir. Kondisi ini mengindikasikan bahwa aktivitas ekspor minyak Iran telah berhenti untuk sementara waktu.
Terhentinya pengiriman dari Pulau Kharg memperketat pasokan minyak global dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi, terutama karena Iran merupakan salah satu produsen utama di kawasan Timur Tengah.
Selat Hormuz Masih Tertutup Efektif
Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia, masih belum beroperasi normal sejak konflik meletus pada akhir Februari.
Selain itu, blokade yang diberlakukan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sejak pertengahan April semakin memperumit proses diplomatik dan menghambat distribusi minyak mentah, gas alam, dan bahan bakar ke pasar internasional.
Trump Fokus ke China, Bukan Iran
Presiden Donald Trump saat ini berada di Beijing untuk bertemu Presiden Xi Jinping pada 14–15 Mei 2026.
Trump menyatakan bahwa agenda utama pertemuan adalah isu perdagangan dan investasi antara AS dan China. Ia menegaskan bahwa pembahasan mengenai perang Iran tidak akan menjadi fokus utama, meski mengatakan bahwa “kami memiliki Iran sepenuhnya di bawah kendali.”
Tekanan Politik Domestik Meningkat
Konflik berkepanjangan mulai menimbulkan tekanan politik bagi Trump di dalam negeri. Data inflasi AS terbaru menunjukkan lonjakan harga energi kembali mendorong kenaikan harga konsumen, sementara harga bensin telah mencapai level tertinggi sejak 2022.
Kenaikan biaya energi berpotensi memengaruhi sentimen pemilih menjelang pemilu paruh waktu AS pada November 2026.
Pergerakan Harga Minyak
- WTI pengiriman Juni 2026 berada di US$102,15 per barel.
- Brent pengiriman Juli 2026 ditutup naik 3,4% ke US$107,77 per barel.
Dampak ke Pasar Global
Kenaikan harga minyak memperbesar risiko inflasi global dan dapat menunda penurunan suku bunga oleh bank sentral utama seperti The Fed. Kondisi ini cenderung mendukung penguatan dolar AS, meningkatkan volatilitas pasar saham, serta menekan aset-aset berisiko, termasuk pasar negara berkembang seperti Indonesia.

