[Medan | 6 Mei 2026] Harga minyak dunia kembali melemah pada Selasa (5/5/2026) seiring berlanjutnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni turun US$4,15 atau 3,9% ke US$102,27 per barel, sementara Brent untuk pengiriman Juli terkoreksi US$4,57 atau 4% ke US$109,87 per barel. Pelemahan ini mencerminkan berkurangnya premi risiko geopolitik setelah meredanya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Selat Hormuz Mulai Stabil, Risiko Pasokan Mereda
Pemerintah AS menyatakan telah mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan jalur distribusi bagi sekitar 20% pasokan minyak global. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa operasi militer telah beralih dari ofensif menjadi perlindungan jalur pelayaran. Di sisi lain, Iran membantah keterlibatan militernya dalam serangan terhadap Uni Emirat Arab, sehingga membantu menjaga keberlanjutan gencatan senjata.
Pasokan Masih Terbatas Meski Ketegangan Mereda
Meski risiko konflik menurun, kondisi pasokan global belum sepenuhnya pulih. Blokade di kawasan Teluk masih membatasi arus minyak, dengan lebih dari 1.550 kapal komersial dan sekitar 22.000 pelaut dilaporkan tertahan. Sepanjang tahun ini, harga Brent bahkan masih mencatat kenaikan lebih dari 50% sejak konflik dimulai pada akhir Februari, menandakan gangguan pasokan masih menjadi faktor dominan.
Data Persediaan AS Beri Sentimen Tambahan
Dari sisi fundamental, data industri menunjukkan stok minyak mentah AS turun sekitar 8,1 juta barel dalam sepekan terakhir, potensi penurunan terbesar sejak pertengahan Februari jika terkonfirmasi oleh data resmi. Penurunan persediaan ini sedikit menahan tekanan penurunan harga, sehingga pergerakan minyak saat ini cenderung volatil antara sentimen geopolitik dan faktor fundamental.
Analisa dan Dampak Pasar
Penurunan harga minyak saat ini lebih mencerminkan keluarnya premi risiko jangka pendek akibat meredanya ketegangan, dibandingkan perubahan fundamental yang signifikan pada keseimbangan supply-demand global. Dengan kondisi jalur distribusi yang masih terbatas dan harga minyak yang tetap berada di atas US$100 per barel, tekanan inflasi global cenderung hanya mereda secara terbatas. Hal ini membuat ekspektasi kebijakan moneter global, khususnya Federal Reserve, masih akan berada dalam stance yang relatif hawkish, meskipun risiko kenaikan suku bunga tambahan sedikit berkurang.

