[Medan | 5 Mei 2026] Gubernur Federal Reserve Bank of New York, John Williams, menyampaikan bahwa suku bunga pada akhirnya perlu diturunkan apabila inflasi kembali ke target 2%. Namun, ia menegaskan bahwa kondisi inflasi saat ini yang masih tinggi membuat timing penurunan suku bunga menjadi tertunda, meski arah kebijakan jangka menengah tetap menuju pelonggaran.
The Fed Tetap Hati-Hati di Tengah Ketidakpastian
Federal Reserve saat ini mempertahankan stance kebijakan yang dinilai seimbang antara menjaga stabilitas harga dan mendukung pasar tenaga kerja. Williams menilai belum ada urgensi untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, sekaligus menegaskan bahwa kebijakan saat ini masih appropriate di tengah dinamika global.
Tekanan Inflasi Dipicu Energi dan Geopolitik
Lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah, khususnya gangguan rantai pasok, menjadi faktor utama yang menahan penurunan inflasi. Williams memperkirakan inflasi AS masih berada di sekitar 3% pada 2026, sebelum secara bertahap kembali ke target 2% pada 2027.
Meski demikian, ia menilai tekanan inflasi saat ini belum menunjukkan efek lanjutan (second-round effect) yang luas, berbeda dengan periode pasca pandemi 2021.
Pasar Tenaga Kerja Mulai Melunak
Dari sisi tenaga kerja, Williams memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS berada di kisaran 2%–2,25%, dengan tingkat pengangguran di rentang 4,25%–4,5%. Sementara itu, proyeksi penambahan tenaga kerja (payroll) April hanya sekitar 65.000, turun signifikan dari 178.000 pada Maret, mencerminkan perlambatan bertahap.
Ia juga menyoroti faktor struktural seperti penuaan populasi dan penurunan imigrasi sebagai penyebab melambatnya pertumbuhan tenaga kerja.
“Higher for Longer” Masih Berlaku
Pernyataan Williams mengonfirmasi satu hal penting: arah kebijakan The Fed memang menuju easing, tapi tidak dalam waktu dekat
Dengan kondisi saat ini:
- inflasi masih di atas target (±3%)
- harga energi tinggi
- geopolitik belum stabil
ruang penurunan suku bunga masih terbatas dalam jangka pendek.

