[Medan | 30 April 2026] Pemerintah melalui Danantara terus mempercepat transformasi BUMN. Hingga 28 April 2026, sebanyak 167 perusahaan pelat merah telah dilikuidasi dalam satu tahun terakhir sebagai bagian dari program efisiensi dan optimalisasi.
Direktur Operasional Danantara, Dony Oskaria, menyampaikan bahwa langkah ini merupakan bagian dari target besar memangkas jumlah BUMN dari 1.077 entitas menjadi hanya sekitar 200–300 perusahaan yang lebih sehat dan kompetitif.
Empat Strategi Utama: Likuidasi hingga Konsolidasi
Transformasi BUMN dilakukan melalui empat pendekatan utama, yakni likuidasi, divestasi, konsolidasi, dan restrukturisasi. Likuidasi difokuskan pada perusahaan yang memiliki beban utang tinggi dan tidak lagi memiliki daya saing.
Sementara itu, divestasi dilakukan pada unit usaha non-inti, sedangkan konsolidasi diarahkan untuk membentuk entitas yang lebih besar berbasis sektor seperti logistik, rumah sakit, hingga perhotelan guna meningkatkan skala ekonomi.
Perubahan Paradigma: Sinergi Jadi Kewajiban
Dalam kerangka baru, pemerintah juga mengubah pendekatan antar-BUMN. Konsep “sinergi” kini tidak lagi bersifat opsional, melainkan menjadi kewajiban yang harus dijalankan.
Langkah ini sejalan dengan pembentukan Danantara sebagai sovereign wealth fund yang berperan mengonsolidasikan aset negara agar lebih efisien dan berdaya saing global.
Merger BUMN Karya Ditargetkan Rampung 2026
Selain likuidasi, pemerintah juga menargetkan merger BUMN karya selesai pada 2026, meskipun mengalami penyesuaian dari target awal pertengahan tahun.
Tujuh BUMN karya yang akan dikonsolidasikan meliputi:
- PT Hutama Karya
- PT Waskita Karya
- PT PP (Persero)
- PT Wijaya Karya
- PT Brantas Abipraya
- PT Adhi Karya
- PT Nindya Karya
Sebelum merger, pemerintah akan melakukan divestasi terhadap bisnis non-inti seperti jalan tol, SPAM, hingga serat optik untuk menurunkan beban utang masing-masing perusahaan.
Tujuan: Efisiensi dan Daya Saing Global
Langkah restrukturisasi ini bertujuan menciptakan BUMN yang lebih ramping, efisien, dan fokus pada bisnis inti. Selain memperbaiki kinerja keuangan, transformasi ini juga diharapkan memperkuat peran BUMN sebagai motor pembangunan nasional.
Kesimpulan: Konsolidasi Jadi Kunci Reformasi BUMN
Secara keseluruhan, langkah agresif pemerintah melalui Danantara menandai pergeseran besar dalam pengelolaan BUMN, dari jumlah yang besar menjadi kualitas yang lebih kuat. Konsolidasi dan efisiensi menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing di tengah tekanan fiskal dan kebutuhan pembangunan jangka panjang.

