[Medan | 19 Mei 2026] Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan melantik Kevin Warsh sebagai Ketua baru Federal Reserve pada Jumat, 22 Mei 2026, dalam upacara resmi di Gedung Putih.
Dengan pelantikan ini, Warsh akan resmi menjadi Ketua The Fed ke-17 dan menggantikan Jerome Powell, yang saat ini menjabat sebagai ketua sementara setelah masa jabatannya berakhir pekan lalu.
Resmi Disahkan Senat
Sebelumnya, Senat AS telah menyetujui nominasi Warsh melalui voting ketat dengan hasil 54 suara mendukung dan 45 menolak.
Hasil tersebut menjadi salah satu proses konfirmasi paling sengit dalam sejarah modern Federal Reserve, mencerminkan besarnya perhatian politik terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Tantangan Berat di Awal Masa Jabatan
Warsh akan memimpin The Fed di tengah inflasi AS yang masih tinggi, harga energi yang melonjak akibat konflik Iran, dan meningkatnya spekulasi bahwa bank sentral mungkin harus mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Kondisi ini membuat tugas Warsh sangat kompleks karena ia harus menyeimbangkan stabilitas harga, pertumbuhan ekonomi, dan ekspektasi pasar.
Sorotan terhadap Independensi The Fed
Penunjukan Warsh juga memicu perhatian terhadap independensi Federal Reserve. Trump secara terbuka menginginkan suku bunga lebih rendah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, sementara Warsh berjanji dalam sidang konfirmasi bahwa ia akan menjalankan kebijakan moneter secara independen dan berdasarkan data ekonomi.
Pasar akan mengamati apakah Warsh mampu menjaga jarak dari tekanan politik Gedung Putih.
Kritik terhadap Kinerja The Fed
Dalam berbagai kesempatan, Warsh mengkritik kebijakan moneter ultra-longgar dan menilai The Fed perlu kembali fokus pada stabilitas harga dan kredibilitas institusi.
Pandangan tersebut membuat banyak pelaku pasar memperkirakan kepemimpinannya akan cenderung lebih hawkish dibanding ekspektasi awal.
Rapat FOMC Pertama pada Juni
Warsh dijadwalkan memimpin rapat pertama Federal Open Market Committee pada 16–17 Juni 2026.
Keputusan dan pernyataan yang dihasilkan dalam rapat ini akan menjadi sinyal penting bagi pasar global mengenai arah suku bunga Amerika Serikat.
Dampak terhadap Pasar Global
Pelantikan Warsh memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan tetap berhati-hati terhadap inflasi.
Jika Warsh mengambil sikap hawkish, imbal hasil obligasi AS dapat tetap tinggi, dolar AS berpotensi menguat, dan tekanan terhadap emerging markets termasuk Indonesia dapat berlanjut.
Sebaliknya, jika ia membuka peluang pelonggaran kebijakan, pasar saham global berpotensi merespons positif.
Implikasi bagi Indonesia
Bagi Indonesia, arah kebijakan Warsh akan sangat memengaruhi nilai tukar rupiah, arus modal asing, dan pasar obligasi domestik.
The Fed yang mempertahankan suku bunga tinggi cenderung menahan aliran modal ke negara berkembang dan memperbesar tekanan terhadap rupiah.

