[Medan | 19 Mei 2026]Tekanan terhadap nilai tukar rupiah memicu kritik keras dari parlemen. Anggota Komisi XI DPR RI Primus Yustisio secara terbuka meminta Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo untuk mengundurkan diri setelah rupiah menembus level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat, level terlemah sepanjang sejarah.
Dalam rapat kerja bersama Bank Indonesia, Primus menilai pelemahan rupiah telah menggerus kepercayaan pasar dan mencoreng kredibilitas bank sentral.
Kritik Politik Meningkat terhadap Bank Indonesia
Pernyataan tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan politik terhadap Bank Indonesia di tengah pelemahan tajam rupiah dalam beberapa bulan terakhir.
Selain Primus, sejumlah anggota dewan juga mempertanyakan efektivitas kebijakan moneter BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar, terutama ketika intervensi pasar belum mampu menghentikan depresiasi rupiah.
Secara institusional, pernyataan tersebut tidak serta-merta memengaruhi jabatan Perry Warjiyo. Namun secara psikologis, kritik terbuka dari DPR dapat memperbesar persepsi bahwa tekanan terhadap rupiah telah menjadi isu politik nasional.
Mengapa Rupiah Terus Melemah?
Pelemahan rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik.
Dari sisi global, harga minyak Brent telah menembus US$110 per barel akibat konflik Timur Tengah. Kenaikan harga energi memperbesar tekanan inflasi global dan memperkuat dolar AS.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga tetap tinggi, membuat investor global lebih tertarik menempatkan dana di aset dolar.
Di sisi domestik, pasar mulai mencermati potensi pelebaran subsidi energi, penurunan cadangan devisa, dan kekhawatiran atas keberlanjutan fiskal. Akibatnya, investor meminta premi risiko yang lebih tinggi terhadap aset Indonesia.
Apakah Perry Warjiyo Akan Mundur?
Secara realistis, peluang Perry Warjiyo mengundurkan diri masih sangat kecil.
Gubernur Bank Indonesia memiliki masa jabatan tetap dan hanya dapat diberhentikan melalui mekanisme hukum dan politik tertentu. Kritik dari DPR lebih merupakan tekanan moral dan sinyal ketidakpuasan terhadap kinerja bank sentral.
Sejauh ini, belum ada indikasi pemerintah mendukung pergantian pimpinan Bank Indonesia.
Dampak ke Pasar Keuangan
Komentar anggota DPR dapat memperburuk sentimen pasar dalam jangka pendek karena menimbulkan pertanyaan mengenai independensi dan stabilitas kebijakan moneter.
Jika pasar menilai koordinasi kebijakan melemah, rupiah dapat tetap berada di bawah tekanan, yield obligasi pemerintah berpotensi naik, dan IHSG rentan mengalami volatilitas.
Namun, jika Bank Indonesia menunjukkan langkah tegas melalui intervensi agresif atau penyesuaian suku bunga, kepercayaan investor dapat pulih.
Potensi Kenaikan BI Rate
Meningkatnya tekanan terhadap rupiah membuat probabilitas kenaikan BI Rate pada Juni 2026 semakin besar.
Kenaikan suku bunga sebesar 25–50 basis poin akan menjadi sinyal kuat bahwa Bank Indonesia memprioritaskan stabilitas nilai tukar dan menjaga daya tarik aset rupiah.
Kebijakan tersebut memang berpotensi menahan pertumbuhan ekonomi, tetapi dapat membantu meredakan tekanan pada pasar keuangan.
Perbandingan dengan Krisis 1998
Meski rupiah mencetak rekor terlemah, kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh berbeda dibanding krisis 1997–1998.
Perbankan lebih sehat, cadangan devisa masih signifikan, sistem nilai tukar lebih fleksibel, dan ekonomi tetap bertumbuh. Karena itu, pelemahan rupiah lebih mencerminkan peningkatan risk premium daripada keruntuhan fundamental.
Kesimpulan
Permintaan anggota DPR agar Perry Warjiyo mundur menandai meningkatnya tekanan politik terhadap Bank Indonesia setelah rupiah melemah ke level terburuk sepanjang sejarah.
Walau peluang pergantian Gubernur BI masih kecil, pernyataan tersebut menegaskan bahwa stabilitas rupiah kini menjadi perhatian utama pemerintah, parlemen, dan pelaku pasar. Fokus investor selanjutnya akan tertuju pada respons kebijakan Bank Indonesia.

