[Medan | 5 Mei 2026] Harga emas global terkoreksi signifikan pada awal pekan, dengan emas spot turun sekitar 2% ke US$4.523,23 per ons, sementara kontrak berjangka melemah 2,4% ke US$4.533,30. Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong perubahan ekspektasi pasar terhadap inflasi dan suku bunga.
Eskalasi Konflik Dorong Minyak & Inflasi
Ketegangan meningkat setelah Iran menyerang kapal di Selat Hormuz serta fasilitas energi di Uni Emirat Arab, memicu lonjakan harga minyak lebih dari 5%. Gangguan pada jalur distribusi energi global ini memperbesar risiko inflasi, terutama melalui kenaikan biaya energi dan logistik.
Penguatan Dolar Tekan Harga Komoditas
Di saat yang sama, dolar AS menguat tajam, membuat komoditas berbasis dolar, termasuk emas, menjadi lebih mahal bagi investor global. Kondisi ini mengurangi permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai.
Lonjakan Yield US Treasury
Tekanan terbesar terhadap emas datang dari kenaikan imbal hasil obligasi AS:
- Yield 2 tahun naik ke 3,969% (+8,1 bps)
- Yield 10 tahun naik ke 4,448% (+7 bps)
- Yield 30 tahun naik ke 5,025% (+5,9 bps)
Kenaikan ini mencerminkan ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer), seiring tekanan inflasi dari energi.
Ekspektasi The Fed Semakin Hawkish
Sejumlah institusi, termasuk Barclays, mulai memperkirakan tidak akan ada pemangkasan suku bunga sepanjang tahun ini. Hal ini diperkuat oleh keputusan The Fed sebelumnya yang tetap menahan suku bunga dengan nada kebijakan yang cenderung hawkish.
Logam Mulia Lain Ikut Melemah
Penurunan tidak hanya terjadi pada emas:
- Perak turun 3,2% ke US$72,95
- Platinum turun 1,7% ke US$1.955,95
- Palladium turun 2,9% ke US$1.481,00

