[Medan | 29 April 2026] Bursa saham Asia diperkirakan bergerak melemah pada pembukaan perdagangan, mengikuti koreksi di pasar saham Amerika Serikat. Indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 terkoreksi dari level tertingginya, dipicu aksi jual pada saham teknologi, khususnya sektor semikonduktor. Sentimen negatif muncul setelah OpenAI dilaporkan tidak mencapai target pertumbuhan pengguna dan penjualan, memunculkan kekhawatiran bahwa belanja besar pada infrastruktur kecerdasan buatan mulai menghadapi tantangan dari sisi monetisasi.
Lonjakan Harga Minyak Tekan Ekspektasi Suku Bunga
Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia yang dipicu konflik di Timur Tengah dan gangguan distribusi di Selat Hormuz semakin memperburuk sentimen pasar. Harga energi yang tinggi meningkatkan tekanan inflasi global, mendorong kenaikan imbal hasil obligasi serta memperkuat dolar AS. Kondisi ini membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve kembali tertunda, sehingga menjadi faktor negatif bagi aset berisiko, terutama saham berbasis pertumbuhan.
Bursa Asia dan IHSG Berpotensi Melemah Terbatas
Sejalan dengan tekanan global tersebut, bursa Asia diperkirakan bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah, meskipun sebagian pasar masih ditopang faktor domestik. Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak sideways dengan bias negatif, berada di kisaran support 6.900–7.000 dan resistance 7.100–7.200. Tekanan utama berasal dari arus keluar dana asing, penguatan dolar AS, serta kenaikan yield global. Dengan kombinasi sentimen tersebut, pergerakan pasar dalam jangka pendek cenderung defensif, dengan potensi rebound yang masih terbatas selama tekanan eksternal belum mereda.

