[Medan | 8 Mei 2026] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mendadak terjun bebas pada sesi II perdagangan hari Jumat (8/5/2026), dengan turun 2.44% ke level 6.999 pada pukul 15.50 WIB.
Tiga faktor yang menekan pasar sore ini: kabar hantavirus yang kini sudah menyentuh Singapura memicu kepanikan investor, kabar rencana kenaikan royalti minerba, dan deretan agenda global pekan depan membuat investor memilih untuk tidak mengambil resiko.
Hantavirus: Dari Kapal Pesiar Argentina, Kini Menyentuh Singapura
Hantavirus adalah virus yang dibawa hewan pengerat, menular melalui feses, urin, dan air liur tikus terinfeksi. Hampir semua strain tidak menular antar manusia, kecuali satu: strain Andes, yang menjadi pemicu wabah saat ini. Gejala meliputi demam, nyeri otot, kelelahan, hingga gagal napas yang dapat berujung kematian. Belum ada vaksin. Belum ada obat spesifik. Penanganan hanya bersifat suportif.
Update Terkini – Singapura:
Communicable Diseases Agency (CDA) Singapura mengonfirmasi pada 4–5 Mei bahwa dua warganya yang berada di MV Hondius kini diisolasi di National Centre for Infectious Diseases (NCID). WHO menegaskan risiko bagi masyarakat umum secara global masih rendah.
Namun bagi Indonesia, kedekatan geografis Singapura adalah alarm nyata. Meski WHO menegaskan risiko masih rendah, memori investor soal pandemi Covid-19 langsung bereaksi. Akibatnya, banyak terjadi aksi jual di sektor-sektor siklikal, sementara sektor kesehatan dan farmasi justru diburu.
Saham Farmasi: Rata-rata ARA
Di tengah IHSG yang tertekan, sektor farmasi dan kesehatan justru menjadi satu-satunya yang masih hijau, Bahkan hampir seluruh emiten besar di sektor ini terpantau menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA), diburu investor yang berotasi dari saham siklikal ke saham defensif, pola yang identik dengan awal pandemi Covid-19 pada Februari–Maret 2020.
| KLBF (Kalbe Farma) | +24.9% |
| KAEF (Kimia Farma) | +24.9% |
| SIDO (Sido Muncul) | +24.9% |
| TSPC (Tempo Scan Pacific) | +24.9% |
| MIKA (Mitra Keluarga) | +24.9% |
| HEAL (Medikaloka Hermina) | +24.9% |
Para analis mengingatkan bahwa momentum ARA ini bersifat spekulatif jangka pendek, bergantung sepenuhnya pada perkembangan status kasus hantavirus dalam beberapa hari ke depan.
Royalti Minerba Naik
Pemerintah dikabarkan berencana menaikkan royalti minerba melalui revisi PP 19/2025, sekaligus mengkaji penerapan skema bagi hasil ala migas untuk sektor pertambangan guna meningkatkan penerimaan negara di tengah booming harga komoditas global. Komoditas yang terdampak meliputi nikel, emas, tembaga, timah, dan kobalt, hampir seluruh tulang punggung ekspor minerba Indonesia.
Kebijakan ini berpotensi langsung menekan margin dan laba bersih emiten tambang, dengan saham-saham yang paling terekspos antara lain:
| ANTM (Aneka Tambang) | Nikel, Emas |
| INCO (Vale Indonesia) | Nikel |
| MDKA (Merdeka Copper Gold) | Emas, Tembaga |
| TINS (Timah) | Timah |
Pasar bereaksi negatif karena dua alasan. Pertama, ketidakpastian regulasi, skema bagi hasil ala migas belum pernah diterapkan di sektor tambang padat modal seperti ini, sehingga kalkulasi IRR proyek-proyek eksisting berpotensi berubah drastis. Kedua, potensi turunnya minat investasi asing ke sektor pertambangan Indonesia yang selama ini sudah bersaing ketat dengan negara-negara produsen lain seperti Filipina, Australia, dan Chile.
Selain itu, reaksi negatif pasar juga tidak lepas dari kondisi portofolio investor domestik saat ini. Dana-dana kelolaan lokal saat ini tengah memiliki eksposur besar di saham-saham komoditas, karena didorong oleh windfall laba emiten tambang akibat lonjakan harga komoditas global di tengah konflik geopolitik. Ketika posisi sudah besar, berita apapun yang berpotensi menggerus laba emiten tambang langsung memicu aksi jual defensif yang cepat.
Perlu dipahami bahwa kenaikan royalti tidak akan membuat perusahaan tambang bangkrut. Adapun dampaknya adalah kompresi margin, bukan kerugian. Perusahaan tetap mencetak laba, hanya lebih kecil dari sebelumnya. Kebijakan ini memang secara spesifik menyasar perusahaan yang sedang menikmati windfall profit akibat tingginya harga komoditas global. Meskipun begitu, kebijakan ini dipandang positif bagi penerimaan negara jangka panjang, terutama di tengah tekanan fiskal akibat harga minyak yang masih tinggi. Pasar kini menunggu detail teknis revisi regulasi tersebut sebelum mengambil sikap lebih definitif.
Pekan Depan: 5 Hari, Banyak Agenda Besar
Jika hari ini IHSG sudah tertekan, pekan depan berpotensi jauh lebih volatile. Ada beberapa agenda besar berurutan dalam satu minggu, masing-masing mampu menggerakkan pasar secara signifikan. Dengan IHSG kini berada di level psikologis kritis 7.000, investor perlu sangat mencermati agenda berikut:
| Tanggal | Agenda |
| Weekend – 11 Mei | Respon Iran Terkait Proposal Damai AS |
| 11 Mei | Senate Vote: Konfirmasi Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed |
| 12 Mei | MSCI Review Indonesia |
| 14-15 Mei | Trump – Xi Jinping Summit di Beijing |
| 15 Mei | Pelantikan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed |
Dari lima agenda besar, MSCI Review pada 12 Mei adalah yang paling kritis secara langsung bagi pasar modal Indonesia. Detail saham mana yang dicoret dari indeks akan memicu aksi jual paksa oleh fund manager global dalam hitungan jam, dan pasar perlu bersiap untuk volatilitas ekstrem di hari itu. Namun yang menentukan tone keseluruhan pekan adalah hasil negosiasi damai Iran-AS. Jika Selat Hormuz kembali terbuka, harga minyak turun, dan rupiah menguat, maka seluruh tekanan yang menghantam IHSG dalam beberapa pekan terakhir bisa mereda sekaligus.
Di sisi kebijakan moneter global, konfirmasi dan pelantikan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed menjadi sinyal penting soal seberapa cepat suku bunga AS akan dipangkas, semakin jelas sinyal dovish-nya, semakin besar potensi aliran modal kembali ke emerging market seperti Indonesia. Sementara pertemuan Trump–Xi di Beijing adalah wildcard terbesar: satu pernyataan soal Taiwan atau Iran yang salah bisa membalikkan seluruh sentimen positif dalam sekejap.
Intinya, jika Iran deal terjadi, Warsh dikonfirmasi mulus, MSCI tidak mengirim kejutan besar, dan Trump–Xi berakhir konstruktif, IHSG punya amunisi kuat untuk rebound menembus 7.200. Tapi jika dua atau lebih skenario terburuk terjadi bersamaan, level 7.000 sebagai support psikologis terakhir akan diuji dengan sangat serius.

