[Medan | 14 April 2026] Presiden Donald Trump mengatakan Iran telah menghubungi pemerintahannya untuk membahas kemungkinan kesepakatan damai, di tengah langkah Amerika Serikat yang resmi memulai blokade laut di Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut disampaikan beberapa jam setelah AS bergerak membatasi akses kapal yang melintasi jalur vital tersebut, baik menuju maupun keluar dari pelabuhan Iran. Meski membuka peluang dialog, hingga kini belum terlihat kemajuan signifikan setelah perundingan di Islamabad akhir pekan lalu berakhir tanpa kesepakatan.
“Kami dihubungi pagi ini oleh pihak yang tepat dan mereka ingin mencapai kesepakatan,” ujar Trump, tanpa merinci identitas pihak yang dimaksud.
Blokade Jadi Alat Tekanan Baru AS
Langkah blokade ini menandai eskalasi terbaru dalam strategi Washington untuk menekan Teheran, khususnya terkait tuntutan penghentian program nuklir Iran. Trump menegaskan tidak akan ada kesepakatan tanpa konsesi dari Iran terkait isu tersebut.
Pemerintah AS juga menyatakan akan mencegat kapal yang terafiliasi dengan Iran, sekaligus melakukan pemeriksaan terhadap kapal netral guna memastikan tidak membawa kargo terlarang. Kebijakan ini berpotensi meningkatkan ketegangan di jalur yang selama ini dilalui sekitar seperlima pasokan energi global.
Harga Minyak Bergejolak di Tengah Ketidakpastian
Di pasar komoditas, harga minyak sempat naik seiring kekhawatiran gangguan pasokan akibat blokade. Namun, penguatan tersebut terbatas setelah pernyataan Trump terkait potensi negosiasi meredakan kekhawatiran investor.
Harga minyak mentah akhirnya ditutup di kisaran US$99 per barel, mencerminkan kondisi pasar yang masih diliputi volatilitas tinggi. Kenaikan biaya perdagangan dan penurunan likuiditas turut memperbesar fluktuasi harga dalam jangka pendek.
Iran Ancam Eskalasi Jika Akses Energi Terganggu
Di sisi lain, Iran memperingatkan akan menargetkan seluruh pelabuhan di Teluk Persia apabila akses ekspor energinya terganggu. Otoritas militer Iran bahkan menyebut blokade AS sebagai bentuk “pembajakan” dan menegaskan komitmen untuk tetap mengendalikan Selat Hormuz.
Ketegangan ini meningkatkan risiko konflik yang lebih luas, terutama jika jalur distribusi energi global semakin terganggu.
Risiko Global Meningkat, China Ikut Terdampak
Gangguan di Selat Hormuz juga menimbulkan risiko besar bagi perdagangan global, termasuk bagi China yang merupakan pembeli utama minyak Iran. Beijing sebelumnya telah menyerukan gencatan senjata segera untuk menjaga stabilitas pasokan energi.
Sementara itu, konflik yang masih berlangsung di kawasan, termasuk eskalasi di Lebanon, turut memperumit upaya mencapai kesepakatan damai yang komprehensif.
Gencatan Senjata dalam Ujian Berat
Kesepakatan gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran yang dijadwalkan berakhir pada 22 April kini berada dalam tekanan besar. Blokade yang dilakukan AS berpotensi mempercepat runtuhnya kesepakatan tersebut apabila tidak diimbangi dengan kemajuan dalam jalur diplomasi.
Dengan demikian, arah konflik dan stabilitas pasar global dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada apakah momentum negosiasi dapat benar-benar diterjemahkan menjadi kesepakatan konkret.

