[Medan | 29 Mei 2026] Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Jumat (29/5/2026) pagi setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran secara tentatif sepakat memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari.
Mengutip Bloomberg, pukul 07.01 WIB harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak Juli 2026 di New York Mercantile Exchange tercatat berada di US$88,45 per barel, turun 0,51% dibanding penutupan sebelumnya di US$88,90 per barel.
Pasar Sambut Potensi Meredanya Konflik Timur Tengah
Penurunan harga minyak dipicu optimisme pasar terhadap kemungkinan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya setelah adanya pembicaraan lanjutan antara AS dan Iran.
Kesepakatan gencatan senjata selama 60 hari dinilai dapat mengurangi risiko gangguan pasokan energi global, terutama terkait jalur distribusi minyak melalui Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur pelayaran energi terpenting dunia.
Pasar menilai stabilitas di kawasan tersebut berpotensi menjaga kelancaran ekspor minyak dari negara-negara Teluk dan mengurangi risiko lonjakan harga energi dalam jangka pendek.
Negosiasi Masih Belum Final
Meski demikian, laporan Bloomberg menyebut Presiden AS Donald Trump disebut belum mencapai kesepakatan final dengan Iran, menurut sumber yang mengetahui proses negosiasi.
Wakil Presiden AS JD Vance juga mengatakan masih terlalu dini untuk memastikan apakah kesepakatan damai benar-benar akan tercapai dalam waktu dekat.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan proses negosiasi masih berlangsung intensif dengan komunikasi bolak-balik antara kedua pihak.
“Kami perlahan dan dengan susah payah mencapai kesepakatan,” ujar Aaron Stein, Presiden Foreign Policy Research Institute, seperti dikutip Bloomberg.
Selat Hormuz Jadi Fokus Utama Pasar
Perhatian pasar saat ini tertuju pada keamanan Selat Hormuz yang selama konflik menjadi sumber kekhawatiran utama investor energi global.
Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati jalur tersebut, sehingga setiap potensi eskalasi militer dapat langsung memicu lonjakan harga minyak dan volatilitas pasar keuangan global.
Dengan adanya indikasi perpanjangan gencatan senjata, premi risiko geopolitik pada harga minyak mulai berkurang untuk sementara waktu.
Namun pelaku pasar masih berhati-hati karena negosiasi belum sepenuhnya selesai dan situasi geopolitik tetap sangat dinamis.
Dampak ke Inflasi dan Pasar Global
Koreksi harga minyak berpotensi menjadi sentimen positif bagi pasar global karena dapat membantu meredakan tekanan inflasi energi yang sebelumnya meningkat akibat konflik Timur Tengah.
Bagi bank sentral global seperti Federal Reserve, stabilisasi harga minyak dapat sedikit mengurangi risiko imported inflation yang sempat menjadi perhatian utama beberapa pekan terakhir.
Di sisi lain, penurunan harga minyak juga dapat membantu memperbaiki sentimen pasar obligasi global karena kekhawatiran inflasi energi berpotensi mereda.
Untuk Indonesia, stabilisasi harga minyak dapat membantu mengurangi tekanan terhadap inflasi domestik dan subsidi energi, sekaligus mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.
Namun demikian, pasar masih akan mencermati perkembangan negosiasi AS-Iran ke depan karena kegagalan mencapai kesepakatan permanen dapat kembali memicu lonjakan harga minyak dan volatilitas pasar global.

