[Medan | 8 Mei 2026] Pemerintah berencana menerbitkan surat utang global berdenominasi renminbi (RMB) atau Panda Bonds pada bulan depan sebagai langkah diversifikasi pembiayaan di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang sempat melemah ke kisaran Rp17.400 per dolar AS. Instrumen ini juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pembiayaan terhadap dolar AS sekaligus memperluas akses ke pasar keuangan Tiongkok yang memiliki likuiditas besar.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut yield yang ditawarkan diperkirakan berada di kisaran 2,3% hingga 2,5%, meski detail tenor dan besaran emisi masih belum diumumkan. Di sisi lain, langkah ini juga muncul seiring tekanan pada yuan yang turut mengalami depresiasi terhadap dolar AS, sehingga membuka ruang bagi Indonesia untuk memanfaatkan sumber pendanaan alternatif dengan biaya relatif kompetitif.
Sudah Masuk Koordinasi dengan Tiongkok
Rencana penerbitan Panda Bonds ini telah dikomunikasikan kepada Kementerian Keuangan China serta Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) sebagai salah satu arranger potensial. Pemerintah China disebut memiliki pendekatan berbeda dalam menilai penerbitan obligasi, yang lebih menitikberatkan pada kepercayaan terhadap fundamental ekonomi dibandingkan peringkat kredit semata. Hal ini menjadi salah satu faktor yang membuka peluang Indonesia untuk masuk lebih dalam ke pasar obligasi RMB.
ICBC sendiri dikabarkan siap mendukung penerbitan tersebut, mengingat besarnya potensi pasar keuangan Tiongkok yang masih dapat dieksplorasi lebih lanjut oleh penerbit sovereign seperti Indonesia.
Bukan Instrumen Baru, Sudah Pernah Terbit Dim Sum Bond
Penerbitan Panda Bonds ini bukan yang pertama bagi Indonesia dalam memanfaatkan pasar obligasi berbasis yuan. Sebelumnya, pemerintah telah menerbitkan Dim Sum Bonds senilai CNH6 miliar atau sekitar Rp15 triliun dengan tenor 5 dan 10 tahun. Obligasi tersebut mendapatkan sambutan positif dari investor global dengan total orderbook mencapai CNH18 miliar.
Instrumen tersebut juga mencatat kupon di kisaran 2,5% hingga 2,9% dengan peringkat investasi dari tiga lembaga pemeringkat utama, serta tercatat di Singapore Exchange (SGX), menunjukkan minat yang kuat terhadap surat utang Indonesia di pasar offshore RMB.
Dampak ke Pasar dan Strategi Pembiayaan
Secara keseluruhan, penerbitan Panda Bonds dapat memperkuat fleksibilitas pembiayaan pemerintah di tengah volatilitas pasar global dan tekanan mata uang. Diversifikasi ke RMB juga berpotensi mengurangi risiko refinancing dalam dolar AS, terutama saat ketidakpastian kebijakan moneter AS masih tinggi.
Dari sisi pasar, langkah ini cenderung positif bagi stabilitas rupiah karena membantu mengurangi tekanan permintaan dolar di pasar domestik. Namun, investor akan mencermati eksekusi dan timing penerbitan, terutama terkait besaran yield relatif terhadap obligasi global Indonesia dalam dolar.
Di pasar obligasi, strategi ini juga dapat mendukung kurva yield domestik tetap stabil, karena sebagian kebutuhan pembiayaan dapat dialihkan ke pasar luar negeri dengan biaya yang lebih efisien.

