[Medan | 13 Mei 2026] Inflasi Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tekanan yang lebih kuat dari perkiraan pada April 2026. Kondisi ini mendorong pelaku pasar untuk mengubah ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve, dari sebelumnya mengantisipasi pemangkasan suku bunga menjadi mulai mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga hingga akhir tahun.
Inflasi AS Capai Level Tertinggi Hampir Tiga Tahun
Data dari Bureau of Labor Statistics menunjukkan Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) naik 0,6% secara bulanan pada April 2026, lebih tinggi dibanding konsensus pasar.
Secara tahunan, inflasi tercatat sebesar 3,8%, meningkat dari bulan sebelumnya dan menjadi level tertinggi sejak Mei 2023.
Sementara itu, inflasi inti (core CPI), yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, naik 0,4% secara bulanan dan 2,8% secara tahunan.
Harga Energi Jadi Pendorong Utama
Lonjakan inflasi terutama dipicu oleh kenaikan harga energi yang mencapai 3,8% dalam sebulan dan menyumbang lebih dari 40% total kenaikan CPI.
Harga bensin melonjak 28,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan gangguan pasokan energi global akibat konflik Iran.
Selain energi, harga pangan naik 0,5%, sementara biaya perumahan, tiket pesawat, furnitur, dan pakaian juga mencatat kenaikan.
Pasar Mulai Antisipasi Kenaikan Suku Bunga
Berdasarkan alat pemantau CME Group FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir 2026 meningkat ke kisaran 30%–37%. Pelaku pasar juga mulai menghapus ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam beberapa tahun mendatang.
Kepala Ekonom Moody’s Analytics Mark Zandi mengatakan The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. “Jika ekspektasi inflasi masyarakat terus meningkat, The Fed akan lebih fokus mengendalikan inflasi daripada mendukung pertumbuhan,” ujarnya.
Warsh Hadapi Tantangan Berat
Perubahan ekspektasi pasar menjadi tantangan bagi Kevin Warsh yang diperkirakan segera menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed. Warsh selama ini dinilai lebih dovish dan sejalan dengan keinginan Presiden Donald Trump untuk menurunkan suku bunga. Namun, dengan inflasi yang masih tinggi, ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter menjadi sangat terbatas.
Upah Riil Tertekan
Data juga menunjukkan tekanan terhadap daya beli masyarakat AS. Upah riil rata-rata per jam turun 0,5% secara bulanan dan turun 0,3% dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan kenaikan harga kembali menggerus pendapatan pekerja.
Wall Street Masih Optimistis
Meski inflasi meningkat, sejumlah ekonom menilai tekanan harga masih terkonsentrasi pada sektor energi. Ekonom Jefferies Thomas Simons memperkirakan langkah kebijakan berikutnya The Fed tetap berpotensi berupa penurunan suku bunga, meski waktunya semakin mundur.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi AS masih dinilai solid, ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang kuat, laba korporasi yang sehat, dan proyeksi pertumbuhan kuartal II sebesar 3,7%.
Dampak ke Pasar Keuangan
Data inflasi yang lebih panas dari ekspektasi berpotensi mendorong:
- Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury).
- Penguatan dolar AS.
- Tekanan terhadap harga emas.
- Volatilitas di pasar saham global.
Bagi pasar negara berkembang seperti Indonesia, suku bunga AS yang tinggi lebih lama dapat menekan arus modal asing dan mempertahankan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

