IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Newsletter

Produksi Nikel Indonesia Berkurang, Harga Global Meningkat?

By Zikri Habibi 2 hours ago Newsletter
Source: VOI.id
SHARE

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengonfirmasi rencana pemerintah untuk memangkas produksi bijih nikel nasional pada 2026 guna menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan global. Meski tidak merinci volumenya, sebelumnya Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) menyebut pemerintah berencana menetapkan target produksi sekitar 250 juta ton, turun 34% dari target 2025 sebesar 379 juta ton, untuk menahan tekanan penurunan harga nikel.

Hal ini di akibatkan oleh surplusnya pasokan global sebesar 198.000 ton pada tahun 2025, lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2024 sebesar 179.000 ton. Selain itu juga, stok di London Metal Exchange (LME) mengalami lonjakan kenaikan dari tahun 2024 sebesar 160.000 ton menjadi lebih dari 250.000 ton pada Desember 2025. Tak hanya itu, persediaan nikel dari china juga mengalami surplus meningkat dari 45.000 metrik ton menjadi 55.000 metrik ton atau sebesar 31%. Kelebihan pasokan ini membuat harga nikel cenderung menurun ditambah agresif nya ekspansi dari segi ekspor nikel china ke global.

Dari sisi Indonesia kelebihan pasokan global mencapai 500 kiloton dalam beberapa periode, dimana produksi Indonesia terhadap global memiliki kontribusi sebesar 63-65% dari total produksi nikel dunia. Dengan dominasi ini, Indonesia dapat memegang andil kendali dalam mengatur harga komoditas nikel global dengan menahan produksi nikel pada saat harga global mengalami penurunan.

Dampak terhadap nikel Indonesia

Dari sudut pandang analis, kebijakan ini berpotensi menjadi titik balik bagi harga dan profitabilitas industri nikel domestik. Selama fase oversupply, harga nikel cenderung tertekan meski permintaan jangka panjang tetap solid. Dengan pembatasan produksi, tekanan pasokan berpotensi mereda, membuka ruang bagi pemulihan harga secara bertahap mulai 2026.

Prospek ini diperkuat oleh fundamental permintaan global yang masih konstruktif. Konsumsi nikel dunia diproyeksikan terus meningkat, dengan kebutuhan jangka panjang diperkirakan melampaui 4 juta ton per tahun hingga 2040. Sekitar 80% permintaan global masih berasal dari sektor stainless steel dan kendaraan listrik, dua sektor yang secara struktural sulit digantikan dalam waktu dekat. Artinya, penyesuaian pasokan saat ini lebih mencerminkan upaya menyeimbangkan siklus jangka pendek, bukan pelemahan permintaan.

Ke depan, tantangan pemerintah adalah memastikan kebijakan penahanan produksi berjalan terukur dan konsisten. Pengaturan kuota melalui RKAB perlu diselaraskan dengan kebutuhan industri hilir agar tidak menciptakan distorsi baru di dalam negeri. Di saat yang sama, akselerasi hilirisasi khususnya produk bernilai tambah seperti MHP, nickel matte, dan material baterai menjadi krusial agar Indonesia tidak hanya mengandalkan kontrol volume, tetapi juga peningkatan nilai ekonomi.

Dampak terhadap emiten nikel Indonesia

Penahanan produksi nikel nasional diperkirakan membawa dampak struktural bagi kinerja emiten sektor nikel Indonesia. Berkurangnya pasokan di tengah kondisi oversupply global berpotensi mendorong stabilisasi hingga pemulihan harga nikel, yang pada gilirannya meningkatkan kualitas pendapatan emiten. Dalam kondisi ini, pertumbuhan laba tidak lagi bergantung pada ekspansi volume, melainkan pada perbaikan harga jual dan efisiensi biaya.

Emiten dengan struktur biaya rendah dan cadangan yang efisien diproyeksikan menjadi pihak yang paling diuntungkan karena berpeluang mencatat ekspansi margin lebih besar saat harga membaik. Sementara itu, emiten yang telah terintegrasi ke hilir khususnya produsen nikel olahan dan bahan baku baterai memiliki ketahanan lebih tinggi terhadap volatilitas harga sekaligus visibilitas pendapatan yang lebih baik.

Di sisi lain, pembatasan produksi berisiko menekan arus kas jangka pendek bagi emiten yang masih bergantung pada penjualan bijih mentah. Oleh karena itu, disiplin operasional, pengelolaan belanja modal, dan akselerasi hilirisasi menjadi faktor kunci bagi emiten untuk memaksimalkan manfaat kebijakan ini dan menjaga daya saing dalam siklus harga nikel berikutnya. Adapun beberapa emiten yang terdampak positif terhadap sentiment ini sebagai berikut:

  1. Central Omega Resources Tbk (DKFT)

DKFT memiliki kapasitas produksi bijih nikel hingga sekitar 3 juta ton per tahun, serta fasilitas smelter ferro-nickel dengan kapasitas sekitar 100.000 ton per tahun di Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Pada 2024, produksi bijih nikel perseroan tercatat mendekati 3 juta ton, menunjukkan posisi DKFT sebagai salah satu pemain menengah dengan eksposur langsung terhadap dinamika harga nikel global. Kapasitas ini memberi fleksibilitas bagi DKFT untuk tetap optimal beroperasi di tengah kebijakan pengetatan produksi.

Dengan pasokan global yang lebih terkendali, peluang kenaikan harga nikel dinilai dapat memperbaiki pendapatan dan margin DKFT ke depan. Namun, tantangan tetap ada pada pengelolaan biaya dan arus kas apabila pembatasan volume berlangsung ketat. Ke depan, kemampuan DKFT dalam menjaga efisiensi operasional dan memaksimalkan nilai tambah produk akan menjadi faktor kunci dalam memanfaatkan sentimen positif dari kebijakan penahanan produksi nikel.

  1. Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL)

Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) melanjutkan penguatan bisnis nikel melalui peningkatan eksplorasi dan pengembangan fasilitas hilir. Sepanjang April–Juni 2025, perseroan mengalokasikan dana eksplorasi Rp14,11 miliar dengan hasil pengeboran yang menunjukkan kadar nikel kompetitif, sehingga mendukung keberlanjutan pasokan bahan baku tambang.

Hasil eksplorasi tersebut menopang kelanjutan Proyek KPS, proyek RKEF ketiga Harita Nickel dengan total kapasitas 185.000 ton ferro-nikel (FeNi) per tahun dari 12 lini produksi. Proyek ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi dan nilai tambah produk nikel perseroan.

Saat ini, Fase 2 Proyek KPS telah mencapai progres 69% dan ditargetkan mulai berproduksi pada akhir 2025, sementara Fase 3 telah mencapai 30% dengan target operasi awal 2026. Tambahan kapasitas ini diharapkan mulai berkontribusi terhadap kinerja NCKL secara bertahap pada 2026.

  1. PAM Mineral Tbk (NICL)

PT PAM Mineral Tbk (NICL) merupakan emiten tambang nikel hulu yang kinerjanya sangat dipengaruhi pergerakan harga komoditas. Dengan kapasitas produksi bijih nikel sekitar 1,5–1,8 juta ton per tahun, NICL menjual sebagian besar produksinya ke smelter domestik, sehingga sensitif terhadap kebijakan kuota produksi dan dinamika permintaan industri hilir.

NICL masih dalam proses merampungkan akuisisi saham PT Sumber Mineral Abadi (SMA), perusahaan tambang nikel yang diharapkan selesai pada 2025, setelah menunggu persetujuan Kementerian ESDM. Akuisisi ini ditujukan untuk memperluas cadangan dan memperkuat basis produksi nikel perseroan.

Nilai investasi akuisisi diperkirakan mencapai hingga Rp390 miliar, yang seluruhnya akan dibiayai dari kas internal perusahaan. Dengan tambahan aset tambang, NICL menargetkan peningkatan volume penjualan bijih nikel menjadi 3,3 juta ton pada 2025, naik dari sekitar 2,3 juta ton pada 2024.

Langkah ekspansi ini dinilai strategis di tengah rencana pengetatan produksi nikel nasional. Penambahan cadangan melalui akuisisi SMA diharapkan memberi fleksibilitas pasokan dan menopang kinerja NICL, terutama jika harga nikel global mulai membaik seiring berkurangnya tekanan oversupply.

Technical Analysis

  1. DKFT

BUY ON SUPPORT

Entry : 770-720

TP 1 : 880
TP 2 : 950
TP 3 : 1.160

SL< 670

 

  1. NCKL

BUY ON BREAKOUT

Entry : 1.125- 1170

TP 1 : 1315
TP 2 : 1400
TP 3 : 1660

SL< 1045

 

  1. NICL

BUY ON SUPPORT

Entry : 1275-1335

TP 1 : 1465
TP 2 : 1545
TP 3 : 1615

SL< 1175

Disclaimer On

Buletin ini dimaksudkan untuk tujuan informasi dan bukan sebagai dasar untuk membeli dan menjual keputusan. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa depan. Klien harus mengetahui dan memahami risiko di Pasar Modal dan memahami isi buletin sebelum mengambil tindakan terkait. Oleh karena itu, PT Fawz Finansial Indonesia tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung yang diderita oleh klien sebagai akibat dari penggunaan informasi dalam buletin ini.

By Zikri Fawz Finansial Indonesia

You Might Also Like

2026: Tahun Game Changer untuk Obligasi Indonesia?

Jepang Akan Naikkan Suku Bunga, The Next Market Shock?

Saham Ini Diprediksi Bakal Akan Melejit Di Tahun 2026!

Desember Bullish, Efek Santa Claus Rally dan Window Dressing di Akhir Tahun

Sisa Sebulan, Akankah Target Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2025 Tercapai?

TAGGED: DKFT, NCKL, NICL, Nikel
Zikri Habibi January 2, 2026 January 2, 2026
Previous Article Purbaya Tarik Dana Rp 75 T dari Perbankan, Apa Dampaknya?
Next Article 2026: Tahun Game Changer untuk Obligasi Indonesia?
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Komplek CitraLand Gama City, Madison Avenue, Blok R6 No. 90, Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?