IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Newsletter

AS vs Iran: Strategi Besar yang Berpotensi Jadi Pisau Bermata Dua?

By Aurelia Tanu 4 hours ago Newsletter
Image source: AP/ aa.com.tr
SHARE

Perang antara AS dan Iran dengan cepat memicu reaksi di pasar global. Harga minyak mentah naik ke kisaran USD 80 per barel, harga gas LNG melonjak hingga 50%, biaya pengiriman internasional meningkat, dan harga sejumlah komoditas utama ikut terdorong. Di saat yang sama, indeks saham di berbagai negara Asia dan emerging markets juga mengalami tekanan.

Dalam konteks pasar, perang selalu identik dengan ketidakpastian. Namun data historis menunjukkan bahwa pasar masih mampu pulih apabila konflik berlangsung singkat dan terbatas. Sebaliknya, konflik yang berkepanjangan dan berpotensi melibatkan lebih banyak negara akan memaksa pasar melakukan penyesuaian struktural terhadap inflasi, pertumbuhan, dan valuasi aset.

Apa yang Trump Incar Dari Iran?
Presiden Trump menilai bahwa harga minyak adalah kunci stabilitas ekonomi dan kekuatan politik AS. Lonjakan harga minyak memicu inflasi tinggi, tekanan terhadap daya beli, dan memaksa bank sentral menahan suku bunga tinggi lebih lama. Oleh karena itu, menjaga harga minyak terkendali adalah bagian dari strategi kekuasaan.

Dari sudut pandang ini, langkah Trump terhadap Venezuela menjadi masuk akal. Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, namun selama bertahun-tahun tidak produktif akibat krisis politik dan sanksi. Dengan menekan dan kemudian mengintervensi Venezuela, Trump berupaya mengamankan sumber cadangan minyak strategis yang bisa digunakan untuk menahan lonjakan harga minyak global jika terjadi gejolak di kawasan lain, sekaligus memberi AS pengaruh lebih besar di pasar energi global.

Setelah Venezuela, fokus Trump bergeser ke Iran. Iran memiliki peran yang sangat krusial dalam stabilitas harga minyak global. Iran bukan hanya produsen besar yang masuk dalam daftar sepuluh besar eksportir minyak dunia, letaknya di jantung kawasan Teluk juga membuatnya kunci bagi aliran energi global melalui Selat Hormuz. Jika AS bisa meredam kemampuan Iran untuk menutup atau mengancam jalur pelayaran di selat tersebut, sehingga mengurangi risk premium yang selama ini membebani harga minyak. Kedua, AS juga berupaya membuat Iran “lebih terkontrol”, agar pasar energi global bisa bergerak menuju keseimbangan yang lebih stabil dan harga minyak tidak melonjak terlalu tinggi dalam jangka panjang.

Atau Ini Cara AS Melemahkan China?
China adalah importir minyak mentah terbesar di dunia, sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah. Sekitar setengah dari impor minyak China melewati Selat Hormuz, jalur krusial yang menyumbang 40–45% pasokan minyak via laut. Ketergantungan ini membuat China rentan terhadap gangguan pasokan akibat konflik.

Di saat yang sama, China juga menjadi pembeli utama minyak Iran. Seiring sanksi Barat yang membatasi akses Iran ke pasar global, lebih dari 80–90% ekspor minyak Iran kini mengalir ke China. Ketergantungan ini memberi keuntungan biaya bagi China, namun sekaligus menciptakan kerentanan strategis. Tekanan militer atau politik terhadap Iran berpotensi mengganggu salah satu sumber energi murah terpenting bagi China, memaksa China mencari pasokan alternatif yang lebih mahal dan secara geopolitik lebih dekat dengan kepentingan AS dan sekutunya.

Dengan begitu, meskipun konflik AS terhadap negara-negara produsen minyak tidak secara langsung ditujukan untuk “menyerang” China, namun dampak akhirnya berpotensi melemahkan posisi China secara tidak langsung, melalui peningkatan biaya energi, berkurangnya fleksibilitas pasokan, dan menyempitnya ruang manuver China di pasar energi global.

Ancaman Infrastruktur Tak Terlihat: Air & Internet
Konflik AS-Iran sebenarnya tidak hanya soal minyak. Iran dan sekutunya memiliki potensi untuk menyerang dua sistem kritis yang menopang kehidupan dan ekonomi regional. Infrastruktur air dan internet adalah “senjata baru” yang dapat mengganggu ekonomi dan kehidupan masyarakat dengan cepat, menciptakan risiko yang belum sepenuhnya dihitung oleh pasar global.

1. Air Bersih – Desalination Plants
Negara-negara Teluk, seperti Saudi Arabia (70%), Kuwait (90%), dan Oman (86%), sangat bergantung pada air hasil desalinasi karena keterbatasan sungai, curah hujan, dan sumber air tanah. Satu serangan drone terhadap fasilitas ini dapat membuat jutaan orang kehabisan air dalam hitungan minggu. Meskipun Iran sejauh ini menahan serangan ke fasilitas ini, kemampuan dan posisinya menjadi kartu strategis yang signifikan. Gangguan pasokan air bisa memicu evakuasi massal dan krisis kemanusiaan.

2. Internet – Undersea Fiber Optic Cables
Sekitar 95% lalu lintas internet internasional melewati kabel bawah laut. Jalur kritis melalui Teluk Persia, Laut Merah, dan Laut Arab, berada di bawah pengawasan Iran dan sekutunya. Pemutusan beberapa kabel utama dapat memutus akses internet bagi jutaan orang di Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, dan bahkan memengaruhi India maupun Eropa. Dampaknya bersifat domino mulai dari layanan komunikasi dan transaksi digital terhenti, sistem perbankan dan bursa saham mengalami gangguan operasional, logistik dan distribusi terganggu, hingga menimbulkan tekanan ekonomi berlapis.

Strategi Trump Jadi Pisau Bermata Dua?
Trump awalnya menganggap jika pemimpin tertinggi Iran berhasil disingkirkan, maka struktur kekuasaan di Iran akan runtuh atau setidaknya melemah drastis, sehingga konflik bisa selesai dengan cepat dan terkendali. Namun nyatanya, alih-alih runtuh, Iran justru menunjukkan kemampuan bertahan dan melawan. Struktur militernya tetap utuh, jaringan komandonya berjalan, dan responnya bersifat terukur namun berkelanjutan.

Situasi ini memaksa Trump mengakui bahwa konflik tidak akan selesai dalam hitungan hari. Menurutnya, perang ini bisa berlangsung 4–5 minggu, atau bahkan lebih lama, mencerminkan perubahan perhitungan: dari operasi cepat menjadi potensi konflik yang berlarut.

Masuk ke persenjataan militer, hitungannya menjadi semakin jelas. Iran memiliki persenjataan rudal dan drone dalam jumlah besar dengan biaya relatif murah. Di sisi lain, sistem pertahanan dan ofensif AS sangat canggih, tetapi juga sangat mahal. Dalam skenario perang yang berkepanjangan, AS harus mengeluarkan biaya jutaan dolar untuk mencegat atau membalas serangan yang biayanya bagi Iran jauh lebih rendah. Ketimpangan biaya ini membuat perang jangka panjang menjadi tidak efisien bagi AS, baik dari sisi fiskal maupun logistik.

AS Diproyeksikan Kalah Perang
Menurut Profesor Jiang, analis geopolitik yang dikenal melalui channel YouTube Predictive History, jika konflik ini berlarut, posisi AS justru melemah. Menurutnya, pemenang perang ini adalah pihak yang paling mampu bertahan lama dengan biaya rendah, bukan yang paling unggul teknologinya.

Iran telah mempersiapkan diri selama puluhan tahun untuk skenario ini, menggunakan strategi senjata murah seperti drone dan rudal sederhana untuk menguras sumber daya AS. Sementara itu, militer AS bergantung pada sistem pertahanan berteknologi tinggi dan sangat mahal, sehingga perang setiap hari justru memperbesar beban logistik, ekonomi, dan politik AS.

Dalam jangka panjang, ketidakseimbangan biaya, keterbatasan dukungan publik, serta tekanan terhadap sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk akan membuat posisi AS semakin sulit dipertahankan, meskipun secara militer terlihat lebih kuat di atas kertas.

Apa yang Terjadi Kalau AS Kalah Perang?
1. Keruntuhan Kredibilitas Militer dan Hegemoni Global AS
Kekalahan AS akan menjadi pukulan besar bagi reputasi militernya. Jika Iran, yang tanpa kekuatan udara dan laut setara, mampu membuat AS mundur atau kalah, maka citra militer AS akan runtuh. Negara-negara lain akan mulai meragukan kemampuan AS untuk melindungi sekutunya atau memenangkan konflik besar.

2. Guncangan Sistem Aliansi AS di Timur Tengah
Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, UEA, dan Qatar selama ini bergantung pada payung keamanan AS. Kekalahan AS akan mendorong mereka untuk mengurangi ketergantungan pada AS dan membuka jalur negosiasi langsung dengan Iran, Rusia, atau China. Dalam jangka menengah, ini berpotensi mengakhiri dominasi AS sebagai penjamin keamanan utama kawasan Teluk.

3. Disrupsi Petrodolar dan Stabilitas Keuangan AS
Jika konflik berujung kekalahan AS dan mengganggu stabilitas Teluk secara permanen, maka ekspor minyak dan arus petrodolar akan terganggu. Padahal, petrodolar selama ini menjadi salah satu penopang likuiditas global dolar AS. Pelemahan sistem ini berisiko menekan permintaan dolar, meningkatkan biaya pembiayaan defisit AS, dan mempercepat diversifikasi cadangan devisa global ke mata uang lain.

4. Risiko Koreksi Tajam di Pasar Keuangan AS
Kekalahan perang berpotensi memicu risk-off sentiment di pasar global. Sektor yang paling terdampak adalah teknologi, khususnya AI dan data center, yang selama ini mendapat aliran modal besar dari investor global dan negara Teluk. Jika kepercayaan terhadap stabilitas AS melemah, valuasi aset berisiko tinggi bisa terkoreksi signifikan, memicu volatilitas pasar saham dan obligasi.

5. Penguatan Posisi Geopolitik China dan Rusia
Kekalahan AS akan menciptakan pergantian kekuasaan global. China berpotensi menjadi pemenang strategis tanpa perlu terlibat langsung, terutama karena China adalah mitra dagang utama Iran, dan stabilitas energi jangka panjang China bisa dinegosiasikan langsung dengan Iran dan Teluk. Sementara Rusia berpeluang memanfaatkan posisi Barat yang melemah untuk memperkuat posisi di Eropa Timur dan Timur Tengah serta memperdalam hubungan militernya dengan Iran.

6. Tekanan Politik Domestik di AS
Kekalahan dalam konflik militer kemungkinan besar akan menimbulkan krisis politik di dalam negeri. Biaya anggaran militer yang tinggi tanpa hasil nyata, meningkatnya korban jiwa, dan dampak ekonomi yang signifikan akan memperkuat tekanan terhadap pemerintahan yang sedang berkuasa. Ketegangan politik berpotensi meningkat, sementara kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah dan sistem politik mengalami erosi.

Bagaimana Dampaknya ke Indonesia?
1. Tekanan Harga Energi dan Inflasi Domestik
Bagi Indonesia, konflik AS–Iran langsung terasa lewat harga energi global. Kenaikan harga minyak dan LNG akan memperlebar beban impor energi, terutama karena Indonesia masih menjadi net importer minyak. Dampaknya akan merembet ke inflasi, mulai dari BBM, tarif listrik, hingga biaya logistik. Jika konflik berlarut, pemerintah dihadapkan pada dilema: menahan harga lewat subsidi (membebani APBN) atau membiarkan harga naik dan menekan daya beli masyarakat.

2. Risiko Fiskal: Defisit APBN
APBN Indonesia cukup sensitif terhadap pergerakan harga minyak. Dalam skenario ekstrem, terutama jika Selat Hormuz terganggu, tekanan fiskal bisa meningkat tajam. Artinya, ruang fiskal untuk belanja produktif (infrastruktur, sosial, atau stimulus ekonomi) menyempit, sementara defisit APBN berisiko melebar.

3. Nilai Tukar Rupiah dan Arus Modal
Ketidakpastian global hampir selalu memicu risk-off sentiment. Investor cenderung menarik dana dari emerging markets, termasuk Indonesia, menuju aset aman. Dampaknya Rupiah tertekan, volatilitas pasar keuangan meningkat, dan Bank Indonesia (BI) berpotensi perlu mengetatkan kebijakan moneter lebih agresif untuk menjaga stabilitas.

4. Obligasi: Tekanan Jangka Pendek, Peluang Jangka Menengah
Pasar obligasi Indonesia biasanya menghadapi tekanan awal berupa kenaikan yield akibat pelemahan rupiah dan risiko global yang meningkat. Namun, dalam jangka menengah, jika konflik AS–Iran melemahkan AS dan mempercepat multipolarisasi dunia, Indonesia berpotensi menarik aliran modal sebagai negara dengan fundamental relatif stabil. Dengan kata lain, volatilitas jangka pendek tinggi, tetapi Indonesia tetap relevan sebagai alternatif emerging market.

5. Saham: Volatil dan Selektif Sektor Tertentu
Kenaikan harga energi dan pelemahan rupiah menekan pasar saham secara umum, terutama sektor konsumsi dan impor. Sebaliknya, sektor energi, komoditas, dan eksportir berbasis dolar justru bisa diuntungkan. Pasar tidak runtuh total, namun bergerak lebih selektif.

6. Posisi Strategis Indonesia di Dunia
Jika AS melemah dan dunia bergerak ke arah multipolar, Indonesia berada pada posisi strategis. Sebagai negara non-blok, stabil secara politik, dan relatif netral secara geopolitik, Indonesia dapat meningkatkan peran diplomatik, menarik investasi dari berbagai blok, dan memperkuat posisinya sebagai jangkar stabilitas kawasan. Namun, ini hanya dapat direalisasikan jika stabilitas domestik, fiskal, moneter, dan politik, tetap terjaga.

 

Disclaimer:

Buletin ini dimaksudkan untuk tujuan informasi dan bukan sebagai dasar untuk membeli dan menjual keputusan. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa depan. Klien harus mengetahui dan memahami risiko di Pasar Modal dan memahami isi buletin sebelum mengambil tindakan terkait. Oleh karena itu, PT Fawz Finansial Indonesia tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung yang diderita oleh klien sebagai akibat dari penggunaan informasi dalam buletin ini.

By Aurel Fawz Finansial Indonesia

You Might Also Like

Rally Komoditas Belum Selesai, Siklus Berikutnya Baru Akan Dimulai

Apakah Isu MSCI, Moody’s hingga FTSE Bakal Berdampak Juga ke Obligasi Indonesia?

Ramadhan Rally: Antara Data, Ekspektasi, dan Realita Pasar

Kevin Warsh Jadi Ketua Baru The Fed, Arah Suku Bunga Bakal Berubah?

Ancaman MSCI, Menjadi Kerugian Bagi Market Indonesia

TAGGED: AS kalah perang Iran-AS, dampak perang Iran-AS, harga minyak, perang AS-Iran, Trump perang AS-Iran
Aurelia Tanu March 6, 2026 March 6, 2026
Previous Article China Target Pertumbuhan Terendah Sejak 1990-an, Kenapa?
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Komplek CitraLand Gama City, Madison Avenue, Blok R6 No. 90, Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?