[Medan | 9 April 2026] Pasar keuangan global kembali diliputi kehati-hatian seiring meningkatnya risiko gagalnya gencatan senjata di Timur Tengah, setelah Israel melancarkan serangan besar ke Lebanon. Kondisi ini langsung memicu kenaikan harga minyak dan mengingatkan bahwa tekanan inflasi global belum akan mereda dalam waktu dekat.
Harga Minyak Rebound, Risiko Pasokan Masih Tinggi
Harga minyak mentah kembali menguat, dengan WTI naik ke kisaran US$96,99 per barel dan Brent di sekitar US$96,74 per barel. Kenaikan ini terjadi karena pasar mulai meragukan stabilitas kawasan, terutama karena Selat Hormuz—jalur distribusi sekitar 20% minyak dunia—belum sepenuhnya kembali normal dan masih berada di bawah pengaruh Iran. Dalam kondisi seperti ini, bahkan tanpa penutupan total, risiko gangguan pasokan tetap tinggi dan cukup untuk mendorong harga naik.
Gencatan Senjata Rapuh, Konflik Berpotensi Meluas
Optimisme pasar terhadap de-eskalasi mulai memudar. Iran mengancam akan keluar dari kesepakatan jika serangan Israel ke Lebanon terus berlanjut, sementara Israel menegaskan operasi militernya tidak termasuk dalam cakupan gencatan senjata dengan Iran. Ketidaksinkronan ini menciptakan ketidakpastian tinggi dan membuka ruang konflik melebar ke front lain.
Pasar Global Mulai Wait and See
Bursa Asia bergerak terbatas setelah reli sebelumnya, mencerminkan sikap investor yang lebih berhati-hati. Sementara itu, yield US Treasury tenor 10 tahun bertahan di level tinggi sekitar 4,29%, menunjukkan ekspektasi suku bunga yang akan tetap elevated lebih lama. Dolar AS juga cenderung stabil seiring meningkatnya risk-off sentiment.
Inflasi Jadi Risiko Utama Berikutnya
Dengan harga minyak yang masih jauh di atas level sebelum konflik, tekanan inflasi global diperkirakan akan mulai terlihat dalam beberapa bulan ke depan. Kondisi ini memperkuat pandangan hawkish The Fed, di mana sebagian pejabat mulai membuka kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi kembali meningkat akibat energi.
Kesimpulan: Dari De-eskalasi ke Ketidakpastian
Pasar kini bergeser dari ekspektasi damai menuju skenario ketidakpastian berkepanjangan. Artinya, tanpa perlu eskalasi besar sekalipun, kombinasi konflik yang belum selesai dan harga energi yang tinggi sudah cukup untuk menahan penurunan inflasi dan menjaga volatilitas pasar tetap tinggi.

