[Medan | 5 Maret 2026] Bursa saham Asia diproyeksikan dibuka menguat pada perdagangan Kamis (5/3), menyusul rebound Wall Street yang berhasil memangkas kekhawatiran pasar setelah aksi jual besar-besaran pada sesi sebelumnya. Sentimen positif datang dari data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan ketangguhan aktivitas ekonomi, meski ketidakpastian perang Iran masih mendorong harga minyak tetap tinggi.
Indeks berjangka di Jepang, Australia, dan Hong Kong terpantau menguat. Kontrak indeks Kospi Korea Selatan melonjak sekitar 8%, menandakan pemulihan signifikan setelah pasar Korsel sempat ambruk tajam pada Rabu.
Di Wall Street, S&P 500 naik 0,8%, sementara Nasdaq 100 melonjak 1,5%, didorong reli saham teknologi berkapitalisasi besar. Penguatan ini ditopang data sektor jasa AS yang berekspansi pada laju tercepat sejak pertengahan 2022, dengan indeks harga mencatat level terendah hampir satu tahun, meredakan kekhawatiran inflasi.
Di pasar keuangan global, dolar AS melemah 0,3%, sementara imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik empat basis poin ke level 4,10%. Harga minyak mentah bertahan di kisaran US$75 per barel, mencerminkan pasar yang masih mencermati risiko geopolitik.
Charles Lemonides, pendiri dan Chief Investment Officer ValueWorks LLC, menilai gejolak geopolitik berpotensi mereda tanpa merusak fondasi ekonomi. Ia menegaskan bahwa kekuatan ekonomi AS membuatnya enggan keluar dari pasar di tengah volatilitas.
Di sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump menyatakan keyakinannya terhadap operasi militer melawan Iran, meskipun belum memberikan kejelasan mengenai durasi konflik. Iran dilaporkan terus melancarkan serangan balasan ke Israel dan negara-negara Teluk, sementara AS dan Israel meningkatkan intensitas serangan. Pemerintah Teheran membantah laporan adanya upaya pendekatan diplomatik ke Washington, sementara China disebut akan mengirim utusan khusus ke Timur Tengah untuk melakukan mediasi.
Peter Oppenheimer dari Goldman Sachs Group Inc. menilai meskipun perang dan kekhawatiran terhadap sektor kecerdasan buatan menjadi hambatan bagi aset berisiko, kekuatan ekonomi riil dan kinerja laba korporasi yang solid akan membatasi kedalaman koreksi pasar saham global.
Setelah memangkas suku bunga tiga kali sepanjang 2025, Federal Reserve menahan suku bunga pada Januari 2026 dengan mempertimbangkan inflasi yang masih di atas target dan stabilisasi pasar tenaga kerja. Sejumlah pejabat bahkan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga jika tekanan inflasi kembali menguat.
Pelaku pasar kini menanti rilis data ketenagakerjaan AS Februari yang dijadwalkan Jumat, serta data inflasi pekan depan, menjelang pertemuan kebijakan The Fed pada 17–18 Maret di Washington.
Di Asia, pelemahan dolar mendorong penguatan yen Jepang ke kisaran 157 per dolar AS, seiring penguatan dolar Australia dan Selandia Baru. Sejumlah data regional yang dinanti pekan ini meliputi inflasi Filipina dan Thailand, keputusan suku bunga Malaysia, data produksi industri Taiwan, serta arah kebijakan dari Kongres Rakyat Nasional China.
Harga emas bergerak naik, memulihkan sebagian kerugian sebelumnya seiring masuknya permintaan aset lindung nilai di tengah pasar yang masih sarat risiko.
Peluang Rebound IHSG
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan berpeluang bangkit pada perdagangan Kamis (5/3/2026), seiring menguatnya sentimen global. Peluang technical rebound terbuka setelah indeks tertekan cukup dalam pada sesi sebelumnya.
Pada Rabu (4/3/2026), Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah 4,57% ke level 7.577, sejalan dengan tekanan di mayoritas bursa Asia. Tekanan pasar dipicu kombinasi eskalasi konflik Timur Tengah dan sentimen domestik.
Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menilai meningkatnya tensi geopolitik global menjadi pemicu utama volatilitas. Dari dalam negeri, tekanan bertambah setelah Fitch Ratings menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, meski mempertahankan peringkat di level BBB.
Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan turut menekan nilai tukar rupiah yang mendekati level 17.000 per dolar AS. Di sisi lain, kebijakan keterbukaan data pemegang saham di atas 1% oleh Kustodian Sentral Efek Indonesia sebagai penyesuaian standar MSCI dinilai positif dari sisi transparansi, meski berpotensi memicu kehati-hatian investor dalam jangka pendek.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan memiliki peluang rebound dengan area support di 7.516 dan resistance di 7.693, seiring pemulihan bursa global. Namun, pelaku pasar tetap diminta mencermati dinamika konflik Timur Tengah yang masih menjadi sumber utama volatilitas.

