[Medan | 8 April 2026] Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan untuk menunda rencana serangan terhadap Iran selama dua minggu, membuka ruang negosiasi yang lebih luas terkait pembukaan Selat Hormuz. Keputusan ini muncul di menit-menit akhir sebelum tenggat waktu, sekaligus menjadi sinyal de-eskalasi setelah sebelumnya pasar dihantui risiko perang yang lebih luas.
Minyak Langsung Koreksi Tajam, Tekanan Inflasi Mereda
Pasar merespons cepat keputusan ini. Harga minyak yang sebelumnya sempat melonjak akibat risiko supply shock langsung terkoreksi, dengan WTI sempat jatuh hingga 11% ke bawah US$101 per barel, sementara Brent bergerak di kisaran US$109. Penurunan ini mencerminkan meredanya kekhawatiran gangguan pasokan global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur distribusi sekitar 20% minyak dunia. Secara makro, ini menjadi game changer karena tekanan inflasi global yang sebelumnya meningkat akibat lonjakan energi mulai mereda.
Risk Sentiment Global Berbalik Positif
Penundaan serangan memicu risk-on sentiment di pasar global. Bursa Asia kompak menguat mengikuti Wall Street, didorong ekspektasi bahwa konflik tidak akan langsung eskalatif. Investor mulai kembali masuk ke aset berisiko setelah sebelumnya cenderung defensif akibat ketidakpastian geopolitik. Namun, volatilitas masih tinggi karena kesepakatan belum final dan masih bergantung pada komitmen Iran membuka jalur perdagangan secara penuh.
Negosiasi Masih Rapuh, Risiko Tetap Tinggi
Meski ada kemajuan, struktur kesepakatan masih belum jelas. Iran mengajukan proposal 10 poin yang mencakup penghentian perang permanen, pencabutan sanksi, hingga jaminan jalur aman di Hormuz. Di sisi lain, AS tetap menekan pembukaan selat sebagai syarat utama. Artinya, periode dua minggu ini krusial dan bisa menjadi titik balik baik menuju de-eskalasi permanen atau justru eskalasi lanjutan jika negosiasi gagal.
Dampak ke IHSG dan Pasar Obligasi Indonesia
Untuk pasar domestik, sentimen ini cenderung positif. Koreksi harga minyak berpotensi meredakan tekanan terhadap inflasi Indonesia dan subsidi energi, sehingga mendukung stabilitas makro. IHSG berpeluang rebound dalam jangka pendek seiring risk appetite yang kembali. Di pasar obligasi, penurunan oil price dan meredanya global yield pressure bisa membuka ruang penurunan yield SBN, terutama di tenor menengah-panjang.

