[Medan | 1 Januari 2026] Harga minyak dunia melemah setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi sinyal akan menahan diri dari aksi militer terhadap Iran, menyusul klaim bahwa pemerintah Teheran telah menghentikan penindakan terhadap para pengunjuk rasa.
Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran pasar atas potensi eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang sebelumnya mendorong reli harga minyak.
West Texas Intermediate (WTI) tercatat turun 1,7% ke level US$60,11 per barel pada pukul 15.24 waktu New York, setelah ditutup di US$62,02 per barel pada perdagangan reguler Rabu. Pelemahan ini terjadi setelah harga minyak sempat menyentuh level tertinggi sejak Oktober, seiring meningkatnya spekulasi respons militer AS terhadap gejolak politik di Iran.
Trump mengatakan dirinya telah menerima informasi dari sumber-sumber “di pihak seberang” bahwa pembunuhan terhadap pengunjuk rasa telah dihentikan. Pernyataan ini dipandang pasar sebagai sinyal bahwa opsi serangan militer dalam waktu dekat belum akan diambil.
Presiden AS juga menegaskan akan terus memantau situasi dan tidak menutup kemungkinan perubahan sikap apabila kekerasan kembali terjadi. Meski demikian, nada yang lebih lunak ini menandai perubahan signifikan dibandingkan pernyataannya sehari sebelumnya, ketika Trump secara terbuka mendorong rakyat Iran untuk terus melakukan protes dan menyebut bahwa AS siap “bertindak sesuai perkembangan.”
Tekanan geopolitik sebelumnya meningkat setelah laporan bahwa AS telah memindahkan sebagian personel militernya dari Qatar dan beberapa pangkalan di kawasan Timur Tengah, menyusul ancaman Iran untuk menargetkan fasilitas AS. Langkah tersebut sempat memicu spekulasi bahwa serangan lanjutan sudah dekat.
Namun, dengan meredanya retorika Gedung Putih, pelaku pasar mulai mengurangi premi risiko geopolitik pada harga minyak. Kondisi ini mendorong aksi ambil untung setelah reli tajam dalam beberapa sesi terakhir.
Ke depan, pergerakan harga minyak diperkirakan akan tetap volatil dan sangat bergantung pada dinamika politik Iran serta sikap lanjutan Amerika Serikat. Selama eskalasi militer dapat dihindari, tekanan koreksi harga minyak berpotensi berlanjut, terutama di tengah kekhawatiran perlambatan permintaan global.

