[Medan | 31 Maret 2026] Pemerintahan Presiden AS Donald Trump memberi sinyal bahwa negara-negara Arab berpotensi diminta untuk ikut menanggung biaya perang melawan Iran, yang nilainya telah mencapai puluhan miliar dolar dan terus meningkat seiring berlanjutnya konflik.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa skema pembiayaan tersebut merupakan salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan, mengingat preseden pada Perang Teluk 1990 di mana sekutu AS turut membiayai operasi militer hingga US$54 miliar (setara sekitar US$134 miliar saat ini). Namun berbeda dengan saat itu, konflik kali ini tidak melibatkan koalisi luas sejak awal, sehingga potensi pembagian beban biaya menjadi lebih kompleks secara geopolitik.
Biaya Perang Membengkak Cepat
Biaya konflik menunjukkan eskalasi yang signifikan dalam waktu singkat:
- Hari ke-6: ~US$11,3 miliar
- Hari ke-12: ~US$16,5 miliar
- Hari ke-31: diperkirakan jauh lebih tinggi
- Tambahan anggaran: permintaan hingga US$200 miliar ke Kongres
Lonjakan biaya ini mencerminkan intensitas operasi militer yang tinggi sekaligus kebutuhan replenishment amunisi dan logistik.
Tekanan Energi Mulai Terasa
Dampak perang mulai merembet ke sektor energi, dengan harga bensin di AS naik menjadi sekitar US$3,99 per galon, meningkat lebih dari US$1 dibandingkan sebelum konflik. Kenaikan ini terjadi di tengah gangguan pasokan global, terutama di jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Pemerintah AS menilai kenaikan harga energi ini sebagai konsekuensi jangka pendek, dengan narasi bahwa stabilitas jangka panjang akan tercapai jika konflik dapat diselesaikan.
Negosiasi vs Eskalasi Masih Berjalan Bersamaan
Di tengah tekanan militer, Gedung Putih mengklaim bahwa komunikasi dengan Iran masih berlangsung dan menunjukkan perkembangan positif, meskipun pernyataan publik dari Teheran cenderung kontradiktif. Di sisi lain, AS tetap membuka opsi eskalasi, termasuk ancaman terhadap infrastruktur energi Iran jika tidak ada kesepakatan.
Hal ini menciptakan kondisi pasar yang sangat dipengaruhi oleh headline, di mana arah konflik dapat berubah cepat antara de-eskalasi dan intensifikasi.

