[Medan | 9 Januari 2026] Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan Presiden Donald Trump diperkirakan akan memutuskan pengganti Ketua Federal Reserve Jerome Powell dalam bulan Januari ini. Keputusan tersebut kemungkinan diumumkan berdekatan dengan kehadiran Trump dalam forum ekonomi tahunan World Economic Forum di Davos, Swiss, pada 19–23 Januari.
Menurut Bessent, penentuan pimpinan baru bank sentral AS berpotensi dilakukan tepat sebelum atau sesaat setelah agenda Davos. Saat ini terdapat empat nama yang masuk dalam radar kandidat, yakni Direktur Dewan Ekonomi Nasional Kevin Hassett, mantan Wakil Ketua The Fed Kevin Warsh, Gubernur The Fed Christopher Waller, serta eksekutif BlackRock Rick Rieder. Dari keempat nama tersebut, Rieder menjadi satu-satunya kandidat yang berasal dari luar The Fed dan masih menjalani proses wawancara.
Bessent menilai level suku bunga kebijakan saat ini masih berada di atas tingkat netral dan terlalu restriktif bagi perekonomian. Ia menyebut sebagian besar model ekonomi menempatkan suku bunga netral di kisaran 2,50% hingga 3,25%. Sebagai catatan, The Fed pada Desember lalu memangkas suku bunga acuannya ke rentang 3,50%–3,75%, namun sinyal lanjutan penurunan suku bunga pada awal 2026 relatif terbatas.
Pasar saat ini menilai peluang perubahan suku bunga dalam pertemuan Federal Open Market Committee pada 27–28 Januari sangat kecil. Sejumlah pejabat The Fed cenderung menunggu data tambahan terkait inflasi dan pasar tenaga kerja sebelum melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter.
Dalam pernyataan terpisah yang dikutip media AS, Bessent menilai The Fed seharusnya tidak menunda pelonggaran suku bunga lebih lanjut dan berperan lebih aktif dalam mendorong investasi. Ia juga memuji agenda ekonomi Trump yang dinilai telah menopang pertumbuhan melalui pemangkasan pajak, kesepakatan dagang, serta deregulasi, sembari mengkritik kebijakan ekonomi pemerintahan sebelumnya yang dianggap menekan aktivitas usaha.
Analisis Dampak ke Pasar Keuangan
Pasar Saham Global
Wacana pergantian pimpinan The Fed di bawah Presiden Trump meningkatkan persepsi risiko intervensi politik terhadap independensi bank sentral. Namun, pasar saham cenderung merespons positif apabila kandidat yang dipilih memiliki kecenderungan dovish dan mendukung penurunan suku bunga lebih agresif.
Sektor yang berpotensi diuntungkan antara lain teknologi, properti, dan sektor berbasis pembiayaan, mengingat prospek biaya dana yang lebih rendah. Di sisi lain, ketidakpastian kebijakan moneter dalam masa transisi berpotensi meningkatkan volatilitas jangka pendek, terutama pada saham-saham perbankan dan keuangan yang sensitif terhadap arah suku bunga.
Pasar Obligasi AS
Dari sisi obligasi, ekspektasi bahwa pimpinan The Fed berikutnya lebih akomodatif berpotensi menekan yield US Treasury, khususnya pada tenor menengah hingga panjang. Kurva imbal hasil berpeluang kembali mengalami steepening apabila pasar semakin yakin bahwa siklus pelonggaran suku bunga akan berlanjut pada 2026.
Meskipun begitu, risiko fiskal AS dan meningkatnya penerbitan surat utang pemerintah dapat membatasi penurunan yield secara agresif, terutama di tenor panjang.
Dampak ke Pasar Emerging Market dan Indonesia
Bagi pasar emerging market, termasuk Indonesia, narasi The Fed yang lebih dovish menjadi sentimen positif karena dapat meredakan tekanan arus modal keluar dan menopang stabilitas nilai tukar. Aliran dana asing berpotensi kembali masuk ke aset berisiko, termasuk saham dan obligasi pemerintah negara berkembang.
Di pasar obligasi Indonesia, penurunan tekanan yield global membuka ruang bagi penguatan harga Surat Berharga Negara, terutama pada tenor menengah hingga panjang, selama volatilitas global tetap terkendali. Sementara itu, pasar saham domestik berpeluang mendapatkan sentimen positif dari sektor-sektor sensitif suku bunga seperti properti, konstruksi, dan consumer discretionary.

