[Medan | 11 Maret 2026] Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memperingatkan Iran mengenai potensi konsekuensi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya apabila Teheran benar-benar memasang ranjau laut di Selat Hormuz. Ancaman tersebut muncul setelah Iran menyatakan bahwa tidak ada minyak dari kawasan Teluk yang akan melewati jalur pelayaran strategis tersebut.
Melansir laporan Agence France-Presse (AFP), Rabu (11/3), Trump menyampaikan peringatan tersebut melalui akun media sosial Truth Social miliknya. Ia mengatakan belum menerima konfirmasi resmi bahwa Iran telah memasang ranjau di selat tersebut. Namun, jika laporan itu benar, Trump menegaskan bahwa Iran harus segera menyingkirkan perangkat peledak tersebut.
Trump menyatakan bahwa apabila ranjau benar-benar ditempatkan dan tidak segera dibersihkan, maka Iran akan menghadapi respons militer yang sangat keras dari Amerika Serikat.
Ia juga menambahkan bahwa apabila Iran memilih untuk menghapus ranjau yang mungkin telah dipasang, langkah tersebut dapat menjadi sinyal positif untuk meredakan ketegangan di kawasan.
Ancaman Penggunaan Rudal
Trump juga menyebut bahwa militer Amerika Serikat dapat menggunakan rudal yang sebelumnya dipakai untuk menghancurkan kapal-kapal yang diduga terlibat dalam perdagangan narkoba di perairan Amerika Latin. Senjata tersebut, menurut Trump, dapat digunakan untuk “menghilangkan secara permanen” kapal-kapal yang diduga memasang ranjau di Selat Hormuz.
Ia menegaskan bahwa setiap kapal yang terlibat dalam operasi pemasangan ranjau akan ditindak secara cepat dan tegas oleh militer Amerika Serikat.
Laporan Intelijen Soal Ranjau Laut
Pernyataan Trump muncul setelah laporan CNN yang mengutip sumber anonim dari intelijen Amerika Serikat. Laporan tersebut menyebut bahwa Iran telah mulai menempatkan ranjau di Selat Hormuz, jalur pelayaran yang dilalui hampir seperlima pasokan minyak dunia.
Gangguan di jalur ini berpotensi memberikan dampak besar terhadap distribusi energi global. Laporan tersebut juga menyebut bahwa lalu lintas kapal di wilayah tersebut hampir terhenti akibat meningkatnya risiko keamanan.
Klarifikasi Gedung Putih
Di sisi lain, White House menyatakan bahwa Amerika Serikat belum mengawal kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz. Pernyataan ini disampaikan setelah akun media sosial Menteri Energi sempat memposting klaim bahwa pengawalan tersebut telah dilakukan, sebelum akhirnya unggahan tersebut dihapus.
Situasi di Selat Hormuz terus menjadi perhatian pasar energi global karena jalur tersebut merupakan salah satu rute distribusi minyak paling penting di dunia. Setiap gangguan terhadap jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga energi serta meningkatkan volatilitas di pasar keuangan internasional.

