[Medan | 14 Januari 2026] Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (13/1/2026). Rupiah terdepresiasi 0,19% ke level Rp16.865 per dolar AS, sekaligus menjadi posisi penutupan terlemah dalam delapan bulan terakhir.
Sepanjang perdagangan intraday, tekanan terhadap rupiah sempat semakin dalam. Rupiah bahkan menyentuh level Rp16.878 per dolar AS, yang tercatat sebagai titik terlemah sepanjang masa sebelum akhirnya sedikit menguat menjelang penutupan.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah sejak awal tahun dan mencerminkan kombinasi tekanan sentimen global serta kondisi domestik yang belum sepenuhnya mendukung penguatan mata uang.
Dari sisi global, penguatan dolar AS menjadi faktor utama penekan rupiah. Indeks dolar AS (DXY) menguat 0,12% dan berada di level 98,978, didorong meningkatnya permintaan aset aman di tengah eskalasi ketegangan geopolitik global.
Penguatan dolar terjadi setelah Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman penerapan tarif 25% terhadap negara-negara yang tetap menjalin hubungan dagang dengan Iran. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran baru terkait fragmentasi perdagangan global, sehingga mendorong pelaku pasar mengurangi eksposur pada aset berisiko.
Sentimen tersebut turut menekan mata uang kawasan Asia. Berdasarkan data Bloomberg, hampir seluruh mata uang Asia ditutup di zona merah. Baht Thailand mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,63%, diikuti yen Jepang 0,49%, won Korea Selatan 0,40%, rupiah Indonesia 0,19%, peso Filipina 0,14%, rupee India 0,13%, dolar Singapura 0,10%, offshore renminbi China 0,08%, dolar Taiwan 0,04%, serta dolar Hong Kong 0,04%.
Tekanan yang meluas di kawasan menegaskan posisi rupiah yang masih defensif. Selama ketidakpastian global belum mereda dan perbaikan fundamental domestik belum terlihat signifikan, pergerakan rupiah diperkirakan tetap volatil dengan kecenderungan melemah.

