[Medan | 17 Maret 2026] Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan ancaman keras terhadap Kuba, menyatakan bahwa setelah konflik dengan Iran selesai, pemerintahannya dapat beralih ke negara komunis tersebut yang telah lama menjadi rival Washington sejak era Perang Dingin.
Pernyataan itu muncul di tengah krisis energi dan ekonomi yang semakin parah di Kuba, yang kini mengalami pemadaman listrik besar-besaran akibat kekurangan pasokan minyak. Trump bahkan menyebut dirinya bisa “melakukan apa pun” terhadap negara tersebut, termasuk kemungkinan mengambil alih Kuba dalam bentuk tertentu.
Kuba Tertekan Krisis Energi
Krisis di Havana dan berbagai wilayah Kuba semakin memburuk setelah jaringan listrik nasional dilaporkan mengalami kegagalan besar yang menyebabkan pemadaman hampir di seluruh negeri. Otoritas energi negara, Union Nacional Electrica de Cuba, menyatakan bahwa sistem listrik nasional sempat mengalami penghentian total. Pemulihan dilakukan secara bertahap, namun pemadaman listrik hingga belasan jam per hari masih terjadi di banyak wilayah.
Kondisi tersebut diperparah oleh kebijakan blokade minyak dari Washington yang menghentikan aliran bahan bakar ke pulau Karibia itu sejak awal tahun. Tanpa pasokan minyak dari luar negeri, sektor listrik, transportasi, hingga pariwisata Kuba mengalami tekanan berat.
Tekanan AS Semakin Besar
Krisis energi Kuba juga terkait dengan perubahan geopolitik di kawasan Amerika Latin. Setelah pemerintahan Nicolás Maduro di Venezuela digulingkan awal tahun ini, pasokan minyak yang selama ini menopang ekonomi Kuba ikut terhenti.
Pemerintah Amerika Serikat kemudian memperketat tekanan dengan mengancam tarif terhadap negara mana pun yang memasok minyak ke Kuba. Washington menilai langkah tersebut diperlukan untuk menekan pemerintah komunis Kuba yang dianggap mengancam kepentingan keamanan AS.
Havana Buka Peluang Investasi
Di tengah tekanan ekonomi, pemerintah Kuba mulai membuka peluang investasi baru untuk meredakan krisis. Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Perdagangan Luar Negeri Kuba, Oscar Perez-Oliva, menyatakan bahwa pemerintah kini mengizinkan diaspora Kuba di luar negeri untuk berinvestasi dan memiliki bisnis di negara tersebut. Ia juga menyebut Kuba terbuka untuk menjalin hubungan komersial dengan perusahaan-perusahaan dari Amerika Serikat, sebagai bagian dari upaya menyelamatkan ekonomi yang tengah tertekan.
Protes Rakyat Mulai Muncul
Krisis berkepanjangan telah memicu ketidakpuasan publik di sejumlah kota. Kelangkaan listrik, bahan bakar, makanan, dan obat-obatan mendorong terjadinya protes yang relatif jarang terjadi di negara tersebut. Di kota Moron, massa dilaporkan merusak kantor provinsi Partai Komunis Kuba, sementara aparat keamanan menangkap sejumlah demonstran. Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel mengakui adanya ketidakpuasan masyarakat akibat pemadaman listrik berkepanjangan, namun menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mentoleransi aksi kekerasan.
Kuba Bisa Jadi Target Berikutnya
Sejumlah analis menilai tekanan terhadap Kuba merupakan bagian dari strategi geopolitik Washington di kawasan Amerika Latin, terutama setelah perubahan kekuasaan di Venezuela dan meningkatnya konflik dengan Iran.
Trump sendiri sebelumnya menyatakan bahwa Kuba berada di “momen terakhirnya” dan bahkan membuka kemungkinan terjadinya apa yang ia sebut sebagai “friendly takeover” terhadap negara tersebut. Pernyataan tersebut menandakan bahwa ketegangan antara Amerika Serikat dan Kuba berpotensi meningkat dalam waktu dekat, terutama jika konflik global yang saat ini berlangsung semakin meluas.

