[Medan | 12 Maret 2026] Harga minyak dunia kembali melonjak pada perdagangan Rabu (11/3/2026) setelah meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi akibat serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Mengutip laporan Reuters, harga minyak Brent crude oil naik US$4,18 atau 4,8% dan ditutup pada level US$91,98 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) milik Amerika Serikat menguat US$3,80 atau 4,6% menjadi US$87,25 per barel.
Serangan Baru terhadap Kapal
Kenaikan harga minyak dipicu oleh laporan perusahaan keamanan maritim yang menyebutkan adanya tiga kapal tambahan yang terkena serangan proyektil di Selat Hormuz. Dengan insiden terbaru tersebut, jumlah kapal yang terkena serangan di kawasan itu kini mencapai setidaknya 14 kapal sejak konflik dengan Iran mulai memanas.
Arus pelayaran di jalur sempit tersebut dilaporkan hampir terhenti sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Gangguan ini berdampak pada ekspor sekitar seperlima pasokan minyak global, sehingga mendorong harga minyak mencapai level tertinggi sejak 2022.
Respons Amerika Serikat
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa pemerintahannya siap mengawal kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz apabila diperlukan. Namun, sejumlah sumber industri pelayaran menyebutkan kepada Reuters bahwa Angkatan Laut Amerika Serikat menolak permintaan pengawalan militer karena risiko serangan dinilai masih terlalu tinggi.
Usulan Pelepasan Cadangan Minyak
Di tengah lonjakan harga energi, International Energy Agency (IEA) mengusulkan pelepasan 400 juta barel cadangan minyak strategis guna meredam tekanan harga di pasar energi global.
Jika direalisasikan, langkah tersebut akan menjadi pelepasan cadangan terbesar sepanjang sejarah lembaga tersebut. Volume yang diusulkan bahkan lebih dari dua kali lipat dibandingkan pelepasan 182 juta barel yang dilakukan pada 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Namun, sejumlah analis menilai volume tersebut masih belum cukup untuk menutup potensi kekurangan pasokan apabila konflik di Timur Tengah berlangsung dalam jangka panjang.
Gangguan Tambahan di Kawasan Teluk
Tekanan terhadap pasokan energi global juga meningkat setelah perusahaan minyak negara Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) menutup kilang Ruwais akibat kebakaran yang dipicu serangan drone di salah satu fasilitas kompleks tersebut.
Di sisi lain, Arab Saudi dilaporkan berupaya meningkatkan pengiriman minyak melalui jalur Laut Merah. Namun tambahan volume ekspor tersebut masih belum mampu menutupi gangguan pasokan dari Selat Hormuz.
Data pelayaran menunjukkan Arab Saudi kini memanfaatkan pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah untuk meningkatkan ekspor minyak guna menghindari pemangkasan produksi yang lebih dalam.
Risiko Harga Tembus US$150
Konsultan energi Wood Mackenzie memperkirakan konflik yang berlangsung saat ini berpotensi memangkas pasokan minyak dan produk energi dari kawasan Teluk hingga sekitar 15 juta barel per hari.
Kondisi tersebut berisiko mendorong harga minyak mentah global melonjak hingga US$150 per barel apabila gangguan pasokan terus berlanjut.
Sementara itu, analis dari Morgan Stanley memperingatkan bahwa bahkan jika konflik berakhir dalam waktu dekat, pasar energi global kemungkinan masih akan menghadapi gangguan pasokan selama beberapa pekan ke depan.

