[Medan | 19 Januari 2026] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa pada penutupan perdagangan Kamis, 15 Januari 2026, dengan posisi di level 9.074. Secara year to date, IHSG sudah naik 3,74 persen.
Namun, pencapaian IHSG tersebut tidak diikuti stabilitas nilai tukar. Rupiah justru mengalami pelemahan, dengan depresiasi antara 1,4 hingga 1,7 persen sejak awal tahun. Pada Jumat, 16 Januari 2026, kurs bergerak dari Rp16.680 menjadi Rp16.955 per dolar AS, artinya dolar menguat sebesar Rp275 dalam dua pekan terakhir.
Pergerakan tersebut menunjukkan volatilitas tinggi di pasar uang. Di pasar saham, pergerakan 1,5 persen dianggap wajar, namun di pasar valuta asing, perubahan tersebut tergolong besar karena biasanya mata uang stabil hanya bergerak 0,1 hingga 0,3 persen per minggu.
Direktur Utama PT Forexindo Laba Berjangka, Ibrahim Assuaibi, memprediksi rupiah masih berpotensi melemah hingga menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS pada pekan berikutnya. Menurut Ibrahim, penguatan dolar terjadi karena sentimen eksternal yang mereda justru mendorong investor kembali memburu aset aman.
Beberapa faktor eksternal yang memperkuat dolar AS antara lain meredanya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran, adanya pembicaraan positif antara AS dan Venezuela terkait minyak, serta kepastian bahwa Presiden AS tidak akan memecat Ketua The Fed. Meski data inflasi PPI AS masih di atas target, pasar tetap yakin The Fed akan menurunkan suku bunga.
Kondisi ini dinilai mengonfirmasi adanya kelemahan fundamental ekonomi domestik. Direktur Eksekutif INDEF, Esther Sri Astuti, menyebut kenaikan indeks saham tanpa dukungan kurs yang kuat menunjukkan pasar masih rapuh.
Menurut Esther, penyebab utama pelemahan rupiah adalah ketimpangan pasokan dolar di dalam negeri. Saat sentimen global membuat dolar menguat, rupiah langsung tertekan karena pasokan devisa stagnan, sementara permintaan untuk impor dan pembayaran utang luar negeri meningkat.
Esther memperingatkan bahwa jika rupiah terus melemah hingga Rp17.000, risiko arus modal keluar akan semakin besar. Ia menekankan perlunya transformasi investasi ke sektor riil agar arus modal tidak mudah keluar. Contohnya adalah proyek transisi energi padat karya yang bisa menahan modal di aset fisik.
Selain itu, Esther mendorong pemerintah meningkatkan ekspor jasa untuk menambah pasokan devisa. Semakin banyak tenaga kerja Indonesia di luar negeri yang menghasilkan devisa, kata Esther, maka tekanan pelemahan rupiah dapat diredam.

