[Medan | 3 Februari 2026] Laju inflasi Indonesia kembali meningkat pada awal tahun. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Januari 2026 mencapai 3,55% (yoy), tertinggi sejak Mei 2023 dan mendekati proyeksi konsensus Bloomberg sebesar 3,76%.
Kenaikan inflasi terutama dipicu oleh efek basis rendah, menyusul berakhirnya kebijakan diskon tarif listrik bagi rumah tangga berpendapatan rendah pada tahun lalu. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mencatat inflasi tertinggi sebesar 11,93%.
Inflasi Inti Masih Jinak
Inflasi inti tercatat naik ke 2,45%, namun kenaikan ini sebagian besar dipengaruhi oleh lonjakan harga emas. Jika komponen emas dikecualikan, inflasi inti hanya berada di 1,84% (yoy), lebih rendah dibandingkan Desember.
Kondisi tersebut mengindikasikan permintaan domestik yang masih lemah serta tidak adanya demand-pull inflation. Dengan kata lain, tekanan inflasi belum mencerminkan pemulihan konsumsi masyarakat secara luas.
Rupiah Melemah, Risiko Inflasi Impor Meningkat
Lonjakan inflasi terjadi di tengah tekanan nilai tukar rupiah, yang telah melemah sekitar 0,63% sejak awal tahun dan bergerak di kisaran Rp16.700–Rp16.850 per dolar AS.
Pelemahan rupiah membuka risiko imported inflation, terutama menjelang Ramadan dan Idul Fitri, ketika permintaan barang konsumsi dan energi cenderung meningkat. Data BPS menunjukkan impor migas naik 1,71%, sementara impor nonmigas melonjak 12,46%, menandakan ketergantungan pada barang impor masih tinggi.
Ruang Pelonggaran BI Makin Sempit
Kombinasi inflasi yang kembali menembus 3% dan rupiah yang tertekan membuat ruang pelonggaran moneter Bank Indonesia semakin terbatas. Dalam jangka pendek, penurunan BI Rate dinilai belum memungkinkan.
Meski demikian, peluang kenaikan suku bunga juga dinilai terbatas. Perlambatan ekonomi, lemahnya permintaan kredit, serta kebutuhan menjaga momentum pertumbuhan membuat BI berada dalam posisi wait and see.
Tekanan eksternal turut mempersempit ruang gerak BI. Isu MSCI yang memicu arus keluar modal asing dari pasar saham dan obligasi menambah beban stabilisasi nilai tukar, sehingga BI Rate diperkirakan akan dipertahankan di level tinggi setidaknya hingga kuartal I-2026.
Outlook: Tahan Dulu, Baru Longgar
Ekonom Bloomberg memperkirakan inflasi masih berpeluang kembali ke kisaran target BI pada kuartal II-2026, selama suku bunga acuan dipertahankan ketat lebih lama dan inflasi inti tetap terkendali pasca Ramadan.
Dengan demikian, kenaikan BI Rate belum menjadi skenario dasar, namun pelonggaran juga belum dapat dilakukan. Bank sentral diperkirakan akan memilih strategi menahan suku bunga, sambil menjaga stabilitas rupiah dan memantau dinamika inflasi musiman.

