[Medan | 14 Januari 2026] Harga minyak mentah dunia pada Selasa (14/1/2026) melonjak tajam lebih dari 2 persen, dipicu kekhawatiran pasar bahwa ekspor minyak dari Iran bisa terganggu akibat eskalasi konflik dan ketidakstabilan politik yang terus berlanjut.
Benchmark global **Brent crude futures mencatat penguatan sekitar 2,5 persen dan ditutup di level US$ 65,47 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik sekitar 2,8 persen ke US$ 61,15 per barel pada hari yang sama. Level tersebut menandai reli harga yang signifikan dalam dua hari terakhir karena risiko pasokan semakin mendominasi sentimen pasar energi.
Lonjakan harga ini terjadi di tengah protes anti-pemerintah di Iran yang mencapai puncaknya, membuat kekhawatiran bahwa produksi atau pengiriman minyak mentah dari negara anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) itu akan menurun secara tajam. Tekanan geopolitik meningkat setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan kemungkinan tindakan militer dan memberlakukan tarif berat terhadap negara yang berbisnis dengan Iran, menambah premi risiko pasar terhadap pasokan Iran.
Analis energi melihat bahwa pasar kini mulai “memasukkan premi risiko geopolitik” ke dalam harga minyak sebagai bentuk proteksi terhadap kemungkinan gangguan pasokan yang lebih luas, termasuk efek dari konflik Rusia-Ukraina dan ketegangan lain di kawasan yang berkontribusi pada ketidakpastian pasokan global.
Khususnya Iran, seperti yang disebut analis di PVM Oil Associates, merupakan salah satu produsen minyak terbesar di OPEC. Jika pasokan minyak Iran terganggu secara signifikan, potensi kekurangan pasokan global bisa terasa, meskipun sebagian pelaku pasar masih menunggu indikasi nyata adanya penurunan ekspor untuk menjustifikasi harga yang jauh lebih tinggi.
Prospek Volume Ekspor
Selain risiko dari Iran, pasar juga mencermati prospek pasokan dari Venezuela. Setelah perubahan rezim di Caracas, ada ekspektasi bahwa negara itu akan meningkatkan aliran minyak ke pasar global, termasuk potensi pengiriman hingga puluhan juta barel ke Amerika Serikat yang sempat dibatasi sanksi. Namun, efek potensi pasokan tambahan ini belum sepenuhnya menetralkan kekhawatiran fundamental soal Iran.
Secara teknis, tekanan geopolitik telah menambah premi risiko pada harga Brent, dengan analis memperkirakan premi tersebut mencapai beberapa dolar per barel di atas fundamental pasar minyak. Namun, pergerakan harga dalam jangka menengah dan panjang masih dipengaruhi oleh keseimbangan pasokan-permintaan global serta kebijakan produsen utama lainnya.

