[Medan | 21 Januari 2026] Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk kembali mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 20–21 Januari 2026. Sejalan dengan keputusan tersebut, BI juga menahan suku bunga deposit facility di level 3,75 persen dan lending facility di level 5,50 persen.
Keputusan ini diambil di tengah tekanan terhadap nilai tukar Rupiah dan meningkatnya ketidakpastian global. Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan pagi ini Rupiah tercatat melemah 7 poin atau 0,04 persen ke level Rp16.963 per dolar AS.
Peneliti LPEM FEB UI Teuku Riefky menilai tekanan inflasi yang meningkat menjelang akhir 2025 masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia. Menurutnya, kenaikan inflasi terutama dipicu oleh faktor sisi penawaran, khususnya pada komoditas pangan, sementara tantangan eksternal justru semakin meningkat seiring penguatan dolar AS dan memburuknya sentimen geopolitik global.
Menjelang akhir 2025, inflasi cenderung meningkat dan mencapai level tertinggi tahun ini pada Desember. Namun, kenaikan tersebut terutama mencerminkan tekanan sisi penawaran pada komoditas pangan dan masih berada dalam rentang target Bank Indonesia.
Riefky menambahkan, meskipun arus masuk portofolio masih tercatat pasca pemangkasan suku bunga The Fed dan sikap kebijakan BI yang relatif stabil, tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda. Dalam kondisi tersebut, menjaga diferensial suku bunga dinilai krusial untuk menopang kepercayaan pasar dan menahan volatilitas nilai tukar.
Mempertahankan suku bunga kebijakan di level 4,75 persen dinilai akan membantu menjaga perbedaan suku bunga, mendukung kepercayaan pasar, serta meredam volatilitas Rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede. Ia menilai keputusan BI untuk menahan BI Rate sejalan dengan kondisi pasar saat ini, mengingat tekanan terhadap Rupiah masih kuat dan sensitivitas investor terhadap isu fiskal meningkat.
Untuk RDG BI Januari, BI dinilai tepat mempertahankan BI Rate di 4,75 persen karena tekanan nilai tukar masih berlanjut, sementara indikator domestik belum menunjukkan urgensi pelonggaran moneter tambahan.
Dari sisi domestik, Josua menilai kondisi ekonomi masih relatif solid. Indeks keyakinan konsumen pada Desember 2025 tetap berada di zona optimistis, penjualan ritel tumbuh kuat, dan aktivitas industri pengolahan masih ekspansif. Aktivitas dunia usaha juga dinilai tetap terjaga.
Dengan kombinasi tersebut, Bank Indonesia diperkirakan akan tetap memfokuskan kebijakan pada stabilitas nilai tukar dan pengendalian ekspektasi inflasi. Josua menambahkan, apabila BI ingin memberikan dukungan tambahan terhadap pertumbuhan ekonomi dan penyaluran kredit, langkah yang lebih aman di tengah tekanan Rupiah adalah melalui pelonggaran likuiditas tanpa mengubah suku bunga acuan, antara lain dengan mengoptimalkan instrumen operasi pasar terbuka dan menurunkan biaya dana jangka pendek.

