[Medan | 16 Maret 2026] Harga minyak dunia kembali melonjak setelah serangan militer Amerika Serikat terhadap fasilitas strategis Iran memicu eskalasi baru dalam konflik di Timur Tengah. Serangan terhadap Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran, meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Harga minyak jenis Brent Crude diperdagangkan di sekitar US$106 per barel, setelah melonjak lebih dari 40% dalam dua pekan terakhir. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) mendekati US$101 per barel.
Kenaikan harga tersebut terjadi setelah Iran melancarkan serangan balasan terhadap Israel dan sejumlah negara Arab di kawasan Teluk Persia, menyusul serangan AS terhadap fasilitas militer di Pulau Kharg yang menangani sebagian besar ekspor minyak Iran.
Konflik Meluas ke Infrastruktur Energi
Serangan terhadap Pulau Kharg memperluas cakupan konflik yang sebelumnya telah mengganggu stabilitas pasar energi global. Menurut International Energy Agency, perang yang berlangsung di kawasan tersebut telah memicu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.
Sementara itu, lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar energi dunia, masih nyaris terhenti sejak konflik pecah.
Kepala strategi komoditas ING Groep, Warren Patterson, mengatakan bahwa risiko terhadap pasokan energi global terus meningkat meskipun infrastruktur utama minyak di Pulau Kharg sejauh ini belum mengalami kerusakan besar. Menurutnya, gangguan tambahan terhadap pasokan minyak berpotensi membuat pasar energi global semakin ketat.
Ancaman Serangan Balasan
Kantor berita Fars News Agency melaporkan pada Senin pagi bahwa aktivitas ekspor minyak dari Pulau Kharg masih berjalan normal. Namun militer Iran memperingatkan bahwa sejumlah lokasi di Doha dan Dubai yang menjadi basis militer Amerika Serikat berpotensi menjadi target serangan dalam beberapa jam ke depan.
Perang Diperkirakan Berlangsung Beberapa Pekan
Penasihat ekonomi utama Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Pentagon memperkirakan konflik dengan Iran, yang kini telah memasuki pekan ketiga, kemungkinan akan berlangsung antara empat hingga enam minggu.
Perkiraan tersebut disampaikan oleh Kevin Hassett, Kepala National Economic Council, yang menegaskan bahwa keputusan mengenai kapan perang akan berakhir sepenuhnya berada di tangan presiden.
Pada akhir pekan lalu, Donald Trump juga sempat mengisyaratkan kemungkinan membuka jalur negosiasi untuk mengakhiri konflik. Namun Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Iran belum mengajukan permintaan perundingan maupun gencatan senjata.
Upaya Membuka Selat Hormuz
Pemerintah AS juga meningkatkan tekanan agar Selat Hormuz segera dibuka kembali. Presiden Trump meminta sekutu-sekutu AS untuk mengirim kapal perang guna membantu mengamankan jalur pelayaran tersebut.
Menurut laporan The Wall Street Journal, Washington tengah mempersiapkan pembentukan koalisi internasional untuk mengawal kapal-kapal tanker yang melintasi selat tersebut. Namun hingga kini masih dibahas apakah operasi pengawalan akan dimulai sebelum konflik berakhir atau setelah pertempuran mereda.
Gangguan Pasokan Energi Global
Dampak konflik juga mulai dirasakan di kawasan Uni Emirat Arab. Aktivitas pemuatan minyak di pelabuhan utama Fujairah sempat terganggu setelah serangan drone pada Sabtu dini hari yang menghentikan sementara pengiriman melalui rute ekspor utama negara tersebut. Operasi di pelabuhan tersebut dilaporkan kembali berjalan pada Minggu.
Sebagai indikasi meningkatnya tekanan terhadap pasokan minyak global, International Energy Agency menyatakan bahwa minyak dari pelepasan cadangan strategis dalam jumlah besar akan segera tersedia bagi pasar Asia.
IEA mengungkapkan bahwa lembaga tersebut telah menerima rencana implementasi pelepasan 400 juta barel cadangan minyak, yang diumumkan pekan lalu sebagai respons terhadap gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.

