[Medan | 24 Februari 2026] Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat telah menyiapkan opsi serangan militer terhadap Iran, menunggu keputusan final dari Presiden Donald Trump. Sejumlah media internasional menyebutkan bahwa serangan berpotensi dilakukan dalam waktu dekat, bahkan disebut-sebut bisa terjadi pada akhir pekan ini.
Dua Skenario: Gertakan Politik atau Eskalasi Militer
Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, menilai terdapat dua kemungkinan utama dalam dinamika ini. Pertama, ancaman serangan hanya bersifat tekanan politik atau gertakan agar Iran segera menyepakati tuntutan AS dalam negosiasi nuklir, khususnya terkait permintaan zero enrichment uranium. Dalam skenario ini, AS dinilai ingin mempercepat kesepakatan yang selama ini dianggap berlarut-larut.
Kemungkinan kedua adalah eskalasi nyata, di mana Trump benar-benar memberi perintah serangan. Hikmahanto menilai Iran telah bersiap menghadapi skenario terburuk tersebut, termasuk dengan meningkatkan kesiagaan militer dan menerima dukungan tidak langsung dari Rusia. Jika konflik benar-benar pecah, risiko meluasnya perang dinilai tinggi, termasuk potensi keterlibatan Israel yang dapat memperparah ketegangan kawasan.
Tekanan Militer dan Deadline Negosiasi
Dalam beberapa hari terakhir, AS dilaporkan meningkatkan pengerahan aset militernya di Timur Tengah, mulai dari kapal induk, jet tempur, hingga pesawat pengisi bahan bakar. Peningkatan ini dipandang sebagai sinyal kesiapan operasional jika negosiasi nuklir gagal mencapai titik temu. Trump sendiri disebut telah memberikan tenggat waktu keras kepada Teheran, menegaskan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan akan berujung pada tindakan militer.
Di sisi lain, Iran merespons dengan menaikkan status siaga dan menggelar latihan militer di Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati sekitar 20% pasokan minyak dunia. Langkah ini dipandang sebagai sinyal bahwa Iran memiliki leverage strategis yang besar jika konflik benar-benar meningkat.
Dampak Langsung ke Pasar Global
Potensi konflik AS–Iran kini diperkirakan telah mencapai probabilitas sekitar 70%, dan pasar global mulai mengantisipasi skenario terburuk. Jika perang pecah, gangguan di Selat Hormuz hampir pasti akan mendorong lonjakan harga minyak, yang berisiko memicu kembali tekanan inflasi global, terutama di AS. Kondisi ini akan mempersempit ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Di pasar keuangan, aset safe haven kembali menjadi tujuan utama investor. Harga emas telah bertahan di atas level US$5.100 dan diperkirakan tetap menjadi instrumen lindung nilai utama di tengah ketidakpastian geopolitik. Obligasi pemerintah negara maju juga berpotensi kembali diburu seiring meningkatnya penghindaran risiko (risk-off).
Sebaliknya, aset berisiko seperti saham dan kripto diperkirakan akan mengalami tekanan pada fase awal konflik. Bitcoin, yang hingga kini masih bergerak sejalan dengan saham teknologi, berpotensi mengalami koreksi tajam ke area US$50.000–US$55.000. Dalam situasi geopolitik ekstrem, investor institusi cenderung melepas aset berisiko terlebih dahulu untuk mengamankan likuiditas dan stabilitas portofolio.
Strategi Investor: Perketat Manajemen Risiko
Dengan meningkatnya risiko geopolitik dan ketidakpastian arah kebijakan global, investor disarankan untuk memperketat manajemen risiko. Diversifikasi portofolio, peningkatan eksposur ke aset defensif seperti emas dan obligasi, serta pengurangan posisi pada aset berisiko tinggi menjadi langkah yang patut dipertimbangkan.
Pertemuan dan pembicaraan terakhir yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa pekan ini akan menjadi penentu arah konflik. Hingga kejelasan tercapai, pasar diperkirakan tetap bergerak volatil dengan kecenderungan defensif, menuntut investor untuk lebih disiplin dan selektif dalam mengambil posisi.

