IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

PM Jepang Takaichi Menentang Kenaikan Suku Bunga Lebih Lanjut

By Aurelia Tanu 2 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ aa.com.tr
SHARE

[Medan | 25 Februari 2026] Nilai tukar yen kembali melemah pada perdagangan Selasa setelah laporan media lokal menyebutkan bahwa Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyampaikan kekhawatiran atas rencana kenaikan suku bunga lanjutan dalam pertemuannya dengan Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda pekan lalu. Sikap tersebut langsung dibaca pasar sebagai sinyal penahanan pengetatan moneter di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.

Contents
Reaksi Pasar: Obligasi Naik, Saham MenguatArah Kebijakan BOJ Kembali DipertanyakanRekam Jejak Pro-Stimulus TakaichiDampak Politik dan Persepsi InvestorRisiko Dovish Berlebihan terhadap YenEkspektasi Suku Bunga ke Depan

Yen sempat terdepresiasi hingga 1,1% terhadap dolar AS ke level 156,28 per dolar, menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk di antara kelompok mata uang negara maju (G10). Berdasarkan laporan harian Mainichi yang mengutip sejumlah sumber, Takaichi disebut mengambil posisi yang lebih keras dibandingkan pertemuan sebelumnya pada November lalu. Pada perdagangan London, yen masih bertahan lemah di kisaran 155,92 per dolar.

Reaksi Pasar: Obligasi Naik, Saham Menguat

Tekanan pada mata uang Jepang justru diiringi dengan reli di pasar obligasi dan saham. Kontrak berjangka obligasi pemerintah Jepang (JGB futures) melonjak hingga 40 tick ke level 133,10 pada sesi malam. Sementara itu, kontrak berjangka indeks saham Nikkei 225 yang diperdagangkan di Chicago memperpanjang penguatan hingga 1,7%.

Pergerakan ini mencerminkan respons khas pasar terhadap ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar, di mana imbal hasil obligasi cenderung turun dan aset berisiko seperti saham mendapat dukungan jangka pendek.

Arah Kebijakan BOJ Kembali Dipertanyakan

Komentar Takaichi muncul di tengah upaya pelaku pasar, ekonom, dan pengamat bank sentral untuk menilai apakah sang perdana menteri telah mengubah pendekatannya terhadap Bank of Japan seiring dinamika pasar, perkembangan ekonomi domestik, serta kemenangan telak pemerintahannya dalam pemilu. Perhatian pasar juga tertuju pada rencana nominasi dua anggota baru dewan BOJ yang dijadwalkan diumumkan Rabu ini, yang dinilai akan memberi petunjuk penting terkait arah kebijakan moneter ke depan.

“Takaichi sebelumnya diperkirakan akan bergerak ke arah kebijakan yang lebih ramah pasar. Dalam konteks itu, laporan Mainichi menjadi kejutan besar,” ujar Rinto Maruyama, FX and rates strategist di SMBC Nikko Securities. Ia menilai peluang skenario di mana pemerintah berupaya menekan laju kenaikan suku bunga BOJ kini meningkat.

Bank of Japan sendiri menolak memberikan komentar atas laporan tersebut. Seusai pertemuan, Ueda menyatakan bahwa Takaichi tidak menyampaikan permintaan spesifik dan diskusi hanya mencakup pertukaran pandangan umum mengenai kondisi ekonomi.

Rekam Jejak Pro-Stimulus Takaichi

Takaichi dikenal memiliki kecenderungan pro-stimulus, dengan fokus pada pertumbuhan ekonomi ketimbang pengetatan moneter. Pada September 2024, jauh sebelum menjabat sebagai perdana menteri, ia bahkan menyebut kenaikan suku bunga sebagai langkah yang “bodoh.” Meski demikian, sejak mengambil alih kepemimpinan Partai Demokrat Liberal (LDP) pada musim gugur lalu, retorikanya mulai melunak.

Pada Desember, BOJ tetap melanjutkan kenaikan suku bunga ke level tertinggi dalam 30 tahun, mencerminkan upaya bank sentral menormalisasi kebijakan di tengah tekanan inflasi. Namun, dalam pernyataan terbarunya setelah bertemu Ueda, Takaichi memilih menghindari komentar langsung soal suku bunga.

“Kami berharap BOJ terus bekerja erat dengan pemerintah, dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi, harga, dan stabilitas keuangan, guna mencapai target inflasi 2% secara berkelanjutan dan stabil,” ujarnya dalam konferensi pers setelah kembali dikukuhkan sebagai perdana menteri.

Dampak Politik dan Persepsi Investor

Yen sempat memangkas sebagian pelemahan awal bulan ini setelah Partai Demokrat Liberal meraih kemenangan besar dalam pemilu majelis rendah. Kemenangan tersebut dipersepsikan memberi kejelasan kebijakan dan menurunkan risiko skenario fiskal terburuk. Namun, laporan terbaru soal sikap Takaichi kembali menimbulkan ketidakpastian di pasar valuta asing.

Sejumlah analis menilai bahwa selama momentum kenaikan harga obligasi pemerintah Jepang tetap terjaga, pelemahan yen masih memiliki batas. Kuatnya permintaan JGB mengindikasikan meredanya kekhawatiran fiskal, yang pada gilirannya dapat menopang stabilitas mata uang.

Risiko Dovish Berlebihan terhadap Yen

Meski demikian, sikap yang terlalu dovish juga mengandung risiko. Yusuke Miyairi, FX strategist di Nomura International, menilai bahwa pembatasan suku bunga di level 0,75% akan lebih lunak dari ekspektasi pasar. Menurutnya, setiap upaya pemerintah untuk menghambat kenaikan suku bunga BOJ justru berpotensi melemahkan yen lebih jauh dan mendorong kenaikan imbal hasil JGB, sekaligus meningkatkan tekanan dari Amerika Serikat.

Isu ini menjadi semakin sensitif setelah laporan Nikkei menyebut bahwa pemeriksaan nilai tukar oleh Federal Reserve pada Januari lalu diprakarsai oleh Menteri Keuangan AS, bukan atas permintaan Jepang. Hal tersebut menambah dimensi geopolitik dalam dinamika nilai tukar yen.

Ekspektasi Suku Bunga ke Depan

Pasca kenaikan suku bunga Desember, mayoritas ekonom sebelumnya memperkirakan langkah berikutnya baru akan terjadi pada musim panas. Namun, pelemahan yen yang berlarut-larut dan implikasinya terhadap inflasi mendorong sebagian analis memajukan proyeksi ke April.

Data pasar swap menunjukkan probabilitas sekitar 60% bahwa BOJ akan menaikkan suku bunga pada pertemuan April, dengan kenaikan sebesar 25 basis poin sepenuhnya diperhitungkan oleh pasar pada Juli. Dalam konteks ini, setiap sinyal politik yang mengarah pada pembatasan pengetatan moneter berpotensi kembali menjadi sumber volatilitas utama bagi yen dan pasar keuangan Jepang secara keseluruhan.

 

You Might Also Like

Kekhawatiran Fiskal Meningkat, Minat Lelang Sukuk Turun

Perang Dagang Memanas, China Batasi Ekspor Perusahaan Jepang

Fitch Tetapkan Peringkat BBB Untuk Global Bond Indonesia

Harga Emas Sudah Tembus US$ 5,200 Lagi

APBN Defisit Rp 54,6 Triliun di Januari 2026

TAGGED: PM Jepang, suku bunga Jepang
Aurelia Tanu February 25, 2026 February 25, 2026
Previous Article Wall Street dan Bursa Asia Rebound, IHSG Bakal Ikutan Naik?
Next Article Fitch Tetapkan Peringkat BBB Untuk Global Bond Indonesia
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Komplek CitraLand Gama City, Madison Avenue, Blok R6 No. 90, Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?