[Medan | 2 April 2026] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah setelah Presiden AS Donald Trump dalam pidatonya menegaskan bahwa Amerika Serikat akan menghantam Iran “dengan sangat keras” dalam 2–3 minggu ke depan, mengecewakan pelaku pasar yang sebelumnya berharap adanya sinyal berakhirnya konflik. Per pukul 09.15 WIB, IHSG turun 0,79% ke level 7.127,87, dengan 369 saham melemah, 223 menguat, dan 366 stagnan.
Dalam pidatonya, Trump menyatakan bahwa pasukan AS akan segera “menyelesaikan pekerjaan” di Iran seiring target strategis yang diklaim hampir tercapai. Ia menegaskan bahwa operasi militer selama empat pekan terakhir telah menghasilkan kemenangan signifikan di medan perang, sekaligus mengkritik kebijakan pemerintahan AS sebelumnya yang dinilai gagal menangani konflik Iran sejak awal.
Meski menyebut perang dapat berakhir dalam waktu dekat, Trump tetap menekankan pendekatan agresif dengan melanjutkan serangan militer. Pernyataan yang cenderung kontradiktif ini memperkuat ketidakpastian pasar, setelah sebelumnya muncul ekspektasi bahwa AS akan mulai menarik diri dari konflik. Alih-alih de-eskalasi, pidato tersebut justru mengindikasikan potensi eskalasi lanjutan dalam jangka pendek.
Trump juga kembali menyoroti isu strategis seperti pengamanan Selat Hormuz dan bahkan membuka opsi ekstrem, termasuk penguasaan sumber daya minyak Iran. Di sisi lain, Iran belum menunjukkan tanda-tanda akan mundur, dengan tetap melanjutkan serangan ke wilayah sekutu AS dan mempertahankan posisinya dalam konflik.
Dampak ke Harga Minyak: Kembali Naik
Seiring meningkatnya tensi, harga minyak kembali bergerak naik setelah sebelumnya sempat terkoreksi. Harga minyak Brent tercatat kembali berada di atas US$100 per barel, mencerminkan masih tingginya premi risiko akibat ancaman terhadap jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz. Kenaikan ini juga dipicu oleh kekhawatiran pasar bahwa gangguan pasokan akan semakin nyata jika konflik berlanjut atau meluas.
Implikasi Global: Volatilitas Tetap Tinggi
Secara keseluruhan, pidato Trump mengubah kembali sentimen pasar menjadi risk-off. Bagi IHSG, kondisi ini membuka ruang tekanan lanjutan dalam jangka pendek, terutama jika tidak ada kejelasan mengenai de-eskalasi konflik atau stabilisasi harga energi global.

