[Medan | 13 Maret 2026] Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap ditutup. Dalam komentar publik pertamanya sejak menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas terbunuh, ia memberi sinyal bahwa Teheran tidak akan mundur dalam konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
Ulama garis keras berusia 56 tahun yang baru ditunjuk pada akhir pekan lalu itu juga memperingatkan bahwa Iran siap membuka medan tempur baru dalam konflik melawan Amerika Serikat dan Israel jika perang terus berlanjut.
Pernyataan bernada tegas tersebut kembali menunjukkan keyakinan Teheran bahwa mereka masih mampu meluncurkan serangan rudal dan drone di kawasan energi strategis tersebut, yang kini tengah mengguncang pasar global.
Serangan Iran sejauh ini telah memicu ketegangan di berbagai negara kawasan, mulai dari Israel hingga Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, sekaligus mendorong lonjakan harga energi dunia. Pada Kamis pukul 13.50 waktu London, harga minyak mentah Brent Crude tercatat hampir menembus US$100 per barel.
Hormuz Jadi Titik Tekanan Energi Dunia
Dalam pernyataan tertulis yang dibacakan oleh penyiar televisi pemerintah Iran, disebutkan bahwa penutupan Selat Hormuz harus terus dipertahankan sebagai bagian dari strategi perang. Hingga kini, media pemerintah Iran juga belum menyiarkan gambar langsung Mojtaba Khamenei sejak ia mengambil alih posisi kepemimpinan tertinggi negara tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital yang menjadi rute bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia. Jalur ini secara de facto telah tertutup sejak Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan militer terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Upaya Diplomasi Masih Buntu
Menurut sejumlah sumber yang mengetahui perkembangan diplomasi, pembicaraan melalui jalur belakang antara Iran dan sekutu Amerika Serikat masih jauh dari kata sepakat terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Ancaman Iran untuk menyerang kapal yang mencoba melintasi jalur tersebut telah menjadi fokus utama berbagai upaya diplomasi dalam beberapa hari terakhir.
Proses mediasi saat ini dipimpin oleh Arab Saudi, Oman, dan Turki, dengan dukungan sejumlah negara Eropa. Namun Qatar dilaporkan menarik diri dari pembicaraan setelah beberapa kali menjadi sasaran serangan Iran.
Dampak ke Pasar Global
Penutupan Selat Hormuz kini mulai mengguncang pasar keuangan global, terutama pasar obligasi, karena investor khawatir lonjakan harga energi akan memicu tekanan inflasi baru. Kondisi tersebut berpotensi memaksa berbagai bank sentral dunia untuk mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Tekanan Politik pada Trump
Di sisi lain, Presiden Donald Trump menghadapi tekanan politik domestik untuk segera membuka kembali jalur energi strategis tersebut. Namun dalam pernyataannya di Truth Social, Trump menegaskan bahwa menghentikan ambisi nuklir Iran merupakan prioritas utama bagi Amerika Serikat.
Trump juga menyatakan bahwa lonjakan harga minyak tidak sepenuhnya merugikan ekonomi AS, mengingat negara tersebut saat ini merupakan produsen minyak terbesar di dunia. Menurutnya, kenaikan harga energi justru dapat meningkatkan pendapatan sektor energi domestik Amerika Serikat.

