[Medan | 4 Maret 2026] Pasukan Israel dilaporkan merebut sejumlah posisi baru di wilayah Lebanon Selatan untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata pada 2024. Langkah ini diambil seiring meningkatnya eskalasi militer terhadap Hizbullah, yang berlangsung paralel dengan perang Israel dan Amerika Serikat melawan Iran.
Pada hari keempat serangan udara besar-besaran AS–Israel ke Iran, Israel menegaskan tidak akan mengendurkan operasi militernya di Lebanon hingga Hizbullah dilucuti dari seluruh persenjataannya.
Juru bicara utama Israel Defense Forces (IDF), Effie Defrin, menyatakan bahwa Israel tidak akan mengakhiri operasi sebelum Hizbullah kehilangan seluruh kemampuan militernya.
Pada Senin, Hizbullah meluncurkan sekitar enam roket melintasi perbatasan menuju wilayah Israel. Serangan tersebut memicu respons balasan udara dan laut dari Israel yang dilaporkan menewaskan puluhan warga Lebanon. Menteri Pertahanan Israel menyebut pemimpin Hizbullah, Naim Qasem, sebagai salah satu target utama operasi yang sedang berlangsung.
Israel juga menginstruksikan penduduk di lebih dari 50 desa, mayoritas berada di sepanjang perbatasan Lebanon–Israel, untuk segera mengungsi. Langkah ini dilakukan sebelum pengerahan pasukan darat ke sejumlah titik pada Selasa dini hari. Pada saat yang sama, Angkatan Bersenjata Lebanon (Lebanese Armed Forces/LAF) ditarik dari beberapa posisi yang sebelumnya mereka tempati, sebagai bagian dari upaya memperkuat kontrol negara atas wilayah perbatasan dan mengurangi dominasi Hizbullah.
Pihak United Nations menyatakan bahwa operasi militer di Lebanon Selatan dan wilayah sekitarnya telah memaksa hampir 30.000 penduduk mengungsi, menambah sekitar 64.000 orang yang sebelumnya telah kehilangan tempat tinggal akibat konflik berkepanjangan.
Gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada November 2024 sebelumnya mengizinkan Israel mempertahankan lima pos militer di titik-titik ketinggian strategis di sepanjang perbatasan Lebanon. Israel beralasan keberadaan pos tersebut diperlukan untuk mencegah serangan lintas batas seperti yang terjadi pada Oktober 2023.
IDF menyatakan bahwa posisi-posisi baru yang kini diduduki bersifat defensif, meski tidak merinci jumlah maupun lokasi pasti pos tersebut.
Dalam perkembangan terpisah, pemerintah Lebanon pada Senin mengeluarkan keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan melarang seluruh aktivitas militer dan keamanan Hizbullah serta meminta kelompok tersebut menyerahkan gudang senjatanya. Hingga kini, belum jelas bagaimana kebijakan tersebut akan ditegakkan maupun dampaknya terhadap stabilitas domestik.
Lebanon selama ini mengakui bahwa kapasitas militernya tertinggal jauh dibandingkan Hizbullah, baik dari sisi personel maupun persenjataan, serta menghadapi keterbatasan pendanaan. Di sisi lain, Hizbullah berulang kali memperingatkan bahwa upaya pelucutan senjata secara paksa berpotensi memicu kerusuhan sipil.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa Hizbullah menyeret Lebanon ke dalam konflik yang bukan kepentingan rakyatnya, serta mendesak pemerintah dan masyarakat Lebanon untuk segera mengambil langkah perlindungan diri.

