[Medan | 6 April 2026] Aliansi OPEC+ menyepakati kenaikan kuota produksi sebesar 206.000 barel per hari untuk Mei 2026. Namun, tambahan ini dinilai sangat terbatas dan belum mampu mengimbangi gangguan pasokan global yang jauh lebih besar. Di tengah konflik Timur Tengah, gangguan suplai diperkirakan mencapai 12–15 juta barel per hari atau sekitar 15% dari total pasokan dunia, sehingga kenaikan produksi kurang dari 2% ini lebih bersifat sinyal daripada solusi nyata.
Disrupsi Selat Hormuz Jadi Faktor Kunci
Penutupan Selat Hormuz sejak akhir Februari menjadi penyebab utama terganggunya distribusi minyak global. Jalur ini merupakan choke point vital bagi ekspor minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Irak. Meski terdapat akses terbatas untuk beberapa negara, arus distribusi secara keseluruhan masih jauh dari normal, sehingga tekanan pada harga tetap tinggi.
Harga Minyak Tetap Tinggi, Risiko Naik Lebih Lanjut
Di tengah keterbatasan suplai, harga minyak telah melonjak mendekati US$120 per barel, bahkan berpotensi menembus US$150 jika gangguan berlanjut. Ancaman eskalasi dari Donald Trump terhadap Iran semakin memperbesar risk premium di pasar energi. Selain itu, kerusakan infrastruktur energi akibat konflik diperkirakan membutuhkan waktu lama untuk pulih, memperpanjang periode ketatnya pasokan.
Sinyal Pasar: Supply Shock Masih Dominan
Keputusan OPEC+ menunjukkan bahwa pasar saat ini tidak menghadapi isu demand, melainkan supply shock yang serius. Bahkan jika produksi ditingkatkan, distribusi tetap menjadi bottleneck utama selama jalur pelayaran belum sepenuhnya terbuka. Artinya, harga minyak akan tetap volatil dan cenderung tinggi dalam jangka pendek.

