[Medan | 30 Maret 2026] OECD memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2026 dan 2027, seiring meningkatnya tekanan global akibat konflik geopolitik dan lonjakan harga energi.
Dalam laporan OECD Economic Outlook: Testing Resilience edisi Maret 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan hanya mencapai 4,8% pada 2026 dan 5,0% pada 2027, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya pada Desember 2025 yang masing-masing berada di level 5,0% dan 5,1%.
Di Bawah Target Pemerintah, Risiko Global Jadi Penekan Utama
Revisi ini juga menempatkan proyeksi OECD di bawah target pemerintah dalam APBN 2026 yang sebesar 5,4%. Koreksi tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal, terutama dari konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi dan mengganggu rantai pasok global.
Kondisi ini berdampak langsung terhadap perekonomian Indonesia melalui beberapa jalur utama, yakni kenaikan biaya produksi, tekanan inflasi, serta pelemahan permintaan domestik.
Sebagai negara yang masih memiliki ketergantungan terhadap impor energi, Indonesia menjadi lebih rentan terhadap lonjakan harga global. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh sektor industri, tetapi juga oleh rumah tangga melalui penurunan daya beli.
Inflasi Naik, Daya Beli Tertekan
Selain memangkas proyeksi pertumbuhan, OECD juga merevisi naik proyeksi inflasi Indonesia menjadi 3,4% pada 2026, dari sebelumnya 3,1%.
Kenaikan ini mencerminkan tekanan inflasi berbasis biaya (cost-push inflation) akibat lonjakan harga energi. Dalam kondisi seperti ini, ruang konsumsi masyarakat berpotensi menyempit, terutama jika kenaikan harga tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan.
Jika tekanan inflasi berlanjut, maka konsumsi, yang selama ini menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, akan menghadapi risiko perlambatan.
Likuiditas Global Ketat, Investasi Berisiko Tertahan
OECD juga menyoroti faktor lain yang memperberat prospek ekonomi, yaitu kondisi keuangan global yang semakin ketat. Volatilitas pasar yang meningkat serta kenaikan biaya pendanaan berpotensi menahan ekspansi investasi, baik dari dalam maupun luar negeri.
Dalam konteks ini, Indonesia menghadapi tekanan ganda: di satu sisi konsumsi tertekan oleh inflasi, di sisi lain investasi tertahan oleh biaya modal yang lebih tinggi.
Secara global, pertumbuhan ekonomi juga diproyeksikan melambat menjadi 2,9% pada 2026 sebelum naik tipis ke 3,0% pada 2027, menandakan bahwa pelemahan ini bersifat luas dan tidak hanya terjadi di Indonesia.

