[Medan | 6 Februari 2026] Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Ratings menurunkan outlook peringkat kredit Pemerintah Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil, namun tetap mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia di level Baa2 untuk mata uang lokal dan asing. Dalam pernyataan resminya pada 5 Februari 2026, Moody’s menyebut perubahan outlook ini mencerminkan meningkatnya risiko kebijakan dan melemahnya prediktabilitas dalam perumusan serta komunikasi kebijakan pemerintah.
Risiko Kebijakan dan Fiskal Meningkat
Moody’s menilai konsistensi dan koherensi kebijakan dalam setahun terakhir mengalami penurunan, yang tercermin dari meningkatnya volatilitas pasar saham dan nilai tukar. Fokus pemerintah pada percepatan pertumbuhan melalui ekspansi belanja publik juga dinilai membawa risiko fiskal, mengingat basis penerimaan negara yang masih terbatas. Program-program sosial berskala besar berpotensi menambah tekanan apabila tidak diimbangi reformasi pendapatan yang berkelanjutan.
Fundamental Ekonomi Tetap Solid
Meski outlook diturunkan, Moody’s menegaskan afirmasi peringkat Baa2 mencerminkan ketahanan fundamental ekonomi Indonesia. Kekuatan struktural seperti sumber daya alam, demografi yang mendukung, serta kebijakan fiskal dan moneter yang relatif pruden dinilai mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di kisaran 5% dalam jangka menengah. Defisit fiskal diproyeksikan tetap di bawah 3% PDB, dengan rasio utang pemerintah yang masih lebih rendah dibandingkan median negara berperingkat Baa lainnya.
Danantara Jadi Sumber Ketidakpastian Baru
Moody’s turut menyoroti pembentukan sovereign wealth fund Danantara yang dinilai menambah ketidakpastian, terutama terkait tata kelola, sumber pendanaan, dan prioritas investasi. Dengan kewenangan atas aset BUMN yang sangat besar, Danantara berpotensi menimbulkan kewajiban kontinjensi bagi negara jika tidak dikelola dengan koordinasi dan tata kelola yang kuat. Kebijakan dividen BUMN yang lebih agresif juga dinilai dapat memengaruhi kesehatan keuangan perusahaan pelat merah.
Dampak ke Pasar Keuangan
Perubahan outlook ini tidak mengubah status investasi Indonesia, namun meningkatkan sensitivitas pasar terhadap risiko kebijakan. Dalam jangka pendek, pasar obligasi berpotensi menghadapi tekanan premi risiko yang lebih tinggi sehingga membatasi penurunan yield, sementara pasar saham cenderung tetap volatil, khususnya pada sektor yang sensitif terhadap kebijakan dan fiskal.
Prospek ke Depan
Moody’s menyebut outlook dapat kembali stabil apabila pemerintah mampu memperkuat konsistensi kebijakan dan memperjelas kerangka tata kelola Danantara. Sebaliknya, tekanan penurunan peringkat dapat muncul jika defisit fiskal melebar tanpa reformasi pendapatan, posisi eksternal melemah signifikan, atau kesehatan keuangan BUMN memburuk akibat lemahnya tata kelola.

