[Medan | 9 Maret 2026] Putra mendiang Ali Khamenei resmi ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran berikutnya. Kantor berita semi-pemerintah Fars News Agency melaporkan bahwa Mojtaba Khamenei akan mengambil alih kepemimpinan setelah ayahnya tewas dalam serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Mojtaba yang kini berusia 56 tahun menjadi pemimpin ketiga Republik Islam Iran sejak berdirinya negara tersebut. Penunjukan ini juga mencatat sejarah sebagai suksesi turun-temurun pertama sejak runtuhnya monarki Mohammad Reza Pahlavi dalam Revolusi Iran 1979.
Pemilihan Mojtaba dilakukan oleh Assembly of Experts melalui pemungutan suara yang disebut “menentukan”. Menurut laporan Fars, pemungutan suara tersebut berlangsung hanya beberapa jam sebelum hasilnya diumumkan kepada publik.
Di Tengah Konflik Regional
Penunjukan Mojtaba terjadi saat situasi geopolitik di Timur Tengah memanas. Pada hari kesembilan konflik regional, Iran dilaporkan terus melancarkan serangan ke sejumlah negara tetangga, termasuk menghantam fasilitas pengolahan air di Bahrain.
Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat tersebut telah meningkatkan ketegangan di kawasan dan memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas energi serta keamanan regional.
Sosok Berpengaruh di Balik Layar
Mojtaba Khamenei lahir pada 1969 di kota suci Mashhad di timur laut Iran. Ia merupakan putra kedua dalam keluarga Khamenei.
Menurut catatan Encyclopaedia Britannica, Mojtaba pernah terlibat dalam Perang Iran-Irak sebelum kemudian menjadi ulama dan melanjutkan pendidikan agama di pusat studi Islam di Qom.
Meski jarang tampil di ruang publik, Mojtaba dikenal memiliki hubungan dekat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Pasukan elite ini berperan penting dalam program rudal Iran serta jaringan milisi regional dan disebut memiliki pengaruh ekonomi besar yang diperkirakan mengendalikan hingga 40% aktivitas ekonomi Iran.
Namanya juga pernah menjadi kontroversi dalam Pemilu Presiden Iran 2009, ketika oposisi menuduhnya terlibat dalam intervensi politik yang memicu gelombang protes besar di Iran.
Selain pengaruh politik dan militer, Mojtaba juga disebut memiliki jaringan bisnis luas. Laporan Bloomberg pada awal tahun menyebut ia mengawasi portofolio investasi yang membentang dari Teheran hingga Dubai dan Frankfurt, meski ia tidak memberikan tanggapan atas laporan tersebut.

